Cicero dan Brutus: Kebebasan Republik di Tengah Perebutan Kekuasaan

Brutus menyatakan bahwa kebebasan tidak dapat bergantung pada kemurahan hati seseorang yang memiliki kekuasaan. Ia bahkan mengatakan bahwa jika ia harus memilih antara hidup dengan kebebasan dan hidup dengan status sebagai orang yang tunduk, ia akan mempertahankan kebebasan meskipun konsekuensinya adalah pengasingan.

SUDUT PANDANG - POV

Arka C.G.

9/20/20267 min read

Dalam Cicero on Oratory and Orators: His Letters to Quintus and Brutus (Penerjemah dan Editor: J. S. Watson) terdapat bagian Cicero’s Letters to Brutus yang memperlihatkan korespondensi dalam suasana politik Republik Romawi setelah pembunuhan Julius Caesar. Dalam pengantar bagian ini dijelaskan bahwa surat-surat tersebut bermula pada tahun pembunuhan Caesar, ketika Marcus Antonius dan Dolabella mengambil kedudukan konsul setelah kematian Caesar. Cicero sendiri tidak terlibat dalam konspirasi pembunuhan Caesar, tetapi setelah peristiwa tersebut ia menempatkan dirinya di pihak para konspirator karena memandang mereka sebagai kelompok yang memiliki kekuatan untuk menjaga ketertiban. Perkembangan berikutnya memperlihatkan perubahan hubungan politik yang cepat. Antony berusaha menguasai kekuasaan yang sebelumnya dimiliki Caesar, sementara Brutus dan Cassius memperoleh provinsi tetapi kemudian kehilangan kedudukan tersebut melalui keputusan senat. Dalam keadaan demikian, surat-surat Cicero kepada Brutus tidak sekadar membicarakan persoalan pribadi, melainkan berulang kali membahas hubungan antara kekuasaan, kebebasan, senat, tentara, dan keberlangsungan republik.

Surat pertama Cicero kepada Brutus memperlihatkan bahwa komunikasi politik pada masa tersebut berlangsung melalui jaringan hubungan pribadi yang sangat erat. Cicero menulis mengenai Lucius Clodius yang menurutnya memiliki hubungan persahabatan dengan dirinya dan juga bersikap bersahabat terhadap Brutus. Ia meminta Brutus tidak begitu saja mempercayai laporan yang berlawanan dengan penilaiannya. Bagi Cicero, penilaian terhadap seseorang harus dilakukan dengan memperhatikan karakter dan hubungan nyata, bukan sekadar laporan dari pihak lain. Ia bahkan menjelaskan bahwa suratnya kepada Brutus lebih menyerupai kesaksian mengenai karakter seseorang daripada sekadar surat biasa. Dengan demikian, hubungan pribadi menjadi salah satu unsur yang terus hadir dalam komunikasi politik Cicero, terutama ketika keadaan politik dipenuhi kecurigaan dan perubahan kesetiaan.

Brutus dalam surat berikutnya menunjukkan kecemasan terhadap perkembangan politik setelah terbunuhnya Trebonius dan hilangnya provinsi yang sebelumnya berada dalam lingkup kekuasaan mereka. Ia menyebut kematian Trebonius sebagai kehilangan terhadap seorang warga negara yang sangat baik dan menganggap hilangnya provinsi sebagai keadaan yang memalukan apabila tidak dapat dipulihkan. Pada saat yang sama, Brutus mengakui ketidakpastian mengenai sikap yang harus diambil terhadap pihak-pihak yang terlibat. Ia meminta Cicero menyampaikan pendapatnya karena ia menganggap pengetahuan mengenai pandangan Cicero dapat mengurangi kegelisahannya. Brutus juga menyampaikan bahwa Cassius telah memperoleh Syria dan legiun-legiun Syria. Dalam surat yang sama, ia memuji pidato-pidato Cicero dan menyatakan bahwa pidato tersebut layak disebut Philippics (kritik keras). Ia menulis, “We are in need of two things, my dear Cicero; money, and reinforcements” terjemahnya “Kami membutuhkan dua hal, Cicero yang terkasih: uang dan bala bantuan.” Kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan politik yang mereka hadapi telah berkembang menjadi persoalan militer dan keuangan sekaligus.

Cicero kemudian menanggapi persoalan tersebut dengan menjelaskan pandangannya mengenai perang dan kedudukan republik. Ia menyatakan bahwa keberhasilan Cassius merupakan sesuatu yang menggembirakannya dan bahwa ia sebelumnya telah menyampaikan pendapat agar Cassius secara aktif mengejar Dolabella sebagai musuh. Dalam pandangannya, persoalan yang dihadapi tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan mempertahankan republik melalui tindakan nyata. Cicero juga menjelaskan bahwa pandangannya mengenai republik pada dasarnya sejalan dengan Brutus, meskipun dalam beberapa hal ia menganggap rencana tindakannya lebih tegas. Pernyataan yang paling jelas mengenai hal tersebut terdapat dalam suratnya ketika ia menulis, “the republic should be delivered not only from the tyrant, but also from the tyranny” atau “republik harus dibebaskan bukan hanya dari sang tiran, tetapi juga dari tirani.” Bagi Cicero, persoalan yang muncul setelah kematian Caesar tidak selesai hanya dengan menghilangkan seorang penguasa. Bentuk kekuasaan yang memungkinkan dominasi tersebut juga harus diperhatikan.

Dalam surat-surat berikutnya, persoalan tersebut berkembang menjadi perbedaan mengenai cara menghadapi lawan politik. Cicero membahas tindakan terhadap Caius Antonius dan Dolabella serta mempertimbangkan keadaan militer di berbagai wilayah. Brutus sendiri meminta pertimbangan mengenai cara menghadapi pihak-pihak tersebut. Hubungan antara tindakan militer dan keputusan politik menjadi semakin jelas ketika Cicero membicarakan kebutuhan bala bantuan, uang, dan keputusan senat. Perang bukan hanya persoalan kekuatan di medan pertempuran, tetapi juga berkaitan dengan legitimasi keputusan politik dan kemampuan mempertahankan dukungan terhadap republik.

Korespondensi itu kemudian memperlihatkan perbedaan pandangan antara Cicero dan Brutus mengenai belas kasihan terhadap pihak yang dikalahkan. Brutus cenderung menekankan lenitas atau kelunakan sebagai prinsip yang dapat dipertahankan dalam menghadapi lawan. Cicero, sebaliknya, menyatakan bahwa dalam keadaan tertentu kelunakan dapat menimbulkan persoalan apabila pihak yang diberi ampun kemudian kembali mengancam republik. Dalam salah satu surat Brutus, ia mengakui bahwa Cicero mungkin memiliki alasan dalam tindakannya, tetapi tetap mempertahankan pandangannya mengenai hak senat dan rakyat Romawi untuk menentukan nasib warga negara yang tidak terbunuh dalam pertempuran. Brutus menulis, “the right of decision concerning those citizens who were not killed in the battle against us, belongs to the senate or people of Rome” atau “hak untuk mengambil keputusan mengenai warga negara yang tidak terbunuh dalam pertempuran melawan kami berada pada senat atau rakyat Romawi.” Dengan pernyataan tersebut, Brutus menempatkan keputusan mengenai kehidupan dan status warga negara dalam kewenangan lembaga republik, bukan dalam keputusan pribadi seorang pemimpin militer.

Persoalan kewenangan tersebut menjadi semakin penting ketika pembicaraan beralih kepada Octavius. Cicero melihat Octavius sebagai kekuatan yang pada masa tertentu dapat membantu mempertahankan republik dari Antony. Dalam surat-suratnya, ia menjelaskan bahwa penghargaan yang diberikan kepada Octavius bukan semata-mata tindakan penghormatan, melainkan berkaitan dengan kebutuhan politik dan militer pada saat republik berada dalam keadaan genting. Cicero mengingat bahwa ketika kekuatan Antony menjadi ancaman, Octavius memiliki pasukan yang dapat digunakan untuk menghadapi keadaan tersebut. Karena itu, berbagai penghargaan diberikan kepadanya, termasuk kedudukan dan kehormatan yang melampaui usia serta pengalaman politiknya.

Cicero kemudian menjelaskan kepada Brutus alasan di balik sikapnya terhadap pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh. Ia menyatakan bahwa penghargaan dapat digunakan untuk mendorong seseorang mempertahankan republik. Dalam kasus Lepidus, misalnya, Cicero mengakui bahwa ia pernah mengusulkan pendirian patung untuknya, tetapi kemudian mengusulkan agar patung tersebut disingkirkan setelah Lepidus berbalik. Cicero menerangkan bahwa pemberian kehormatan tersebut pada awalnya dimaksudkan untuk menarik Lepidus kembali dari tindakan yang berbahaya bagi republik. Dalam persoalan penghargaan dan hukuman, ia merujuk pada prinsip yang dikaitkannya dengan Solon bahwa negara dipertahankan melalui “rewards and punishments” atau “penghargaan dan hukuman.” Namun Cicero juga menyatakan bahwa keduanya harus diterapkan dengan ukuran tertentu.

Dari persoalan penghargaan tersebut Cicero beralih kepada persoalan hukuman. Ia menjelaskan kepada Brutus mengapa dirinya memberikan suara yang keras terhadap Antony dan Lepidus. Menurut penjelasannya, tujuan hukuman tersebut bukan semata-mata pembalasan, melainkan juga untuk mencegah warga negara lain melakukan pemberontakan terhadap negara dan untuk meninggalkan catatan bagi masa depan. Cicero membedakan perang yang sedang berlangsung dari perang saudara sebelumnya. Menurutnya, dalam perang-perang sebelumnya, pihak yang menang maupun kalah masih memungkinkan keberadaan suatu bentuk republik, sedangkan dalam konflik yang sedang berlangsung, ia melihat persoalan yang jauh lebih mendasar mengenai apakah republik itu sendiri masih akan bertahan. Karena itu, ia mempertahankan perlunya hukuman keras terhadap para pemimpin yang dianggap mengancam negara.

Meskipun demikian, Cicero tetap menghubungkan semua persoalan tersebut dengan kedatangan Brutus ke Italia. Ia berulang kali meminta Brutus membawa pasukannya ke Italia karena menganggap kehadiran Brutus penting bagi keadaan politik republik. Dalam pandangan Cicero, baik apabila mereka menang maupun apabila konflik masih berlanjut, otoritas Brutus tetap diperlukan. Ia menyatakan bahwa apabila republik berhasil mempertahankan diri, otoritas Brutus dibutuhkan untuk membantu membangun kembali tata negara, sedangkan apabila konflik masih berlanjut, kekuatan tentara dan pengaruh Brutus tetap menjadi salah satu harapan utama. Dengan demikian, bagi Cicero, persoalan politik tidak berhenti pada kemenangan militer, tetapi berlanjut pada persoalan bagaimana suatu tata negara dibangun setelah konflik.

Pandangan Brutus mengenai persoalan tersebut tampak semakin tegas dalam suratnya kepada Cicero mengenai Octavius. Brutus mengkritik surat Cicero kepada Octavius karena menurutnya Cicero menggunakan bahasa yang terlalu merendahkan ketika meminta agar keselamatan Brutus dijamin oleh Octavius. Brutus mempertanyakan keadaan sebuah republik apabila keselamatan warga negara harus diperoleh melalui izin seorang individu. Ia menulis, “what kind of death would not be preferable to safety so secured?” atau “kematian macam apa yang tidak lebih baik daripada keselamatan yang diperoleh dengan cara demikian?” Pertanyaan tersebut menggambarkan pandangan Brutus bahwa keselamatan pribadi tidak dapat dipisahkan dari kebebasan politik. Baginya, hidup dalam keadaan aman tetapi bergantung pada izin seorang penguasa bukanlah bentuk kebebasan yang dapat diterima.

Brutus kemudian memperluas keberatannya dengan membedakan antara mengalahkan seorang penguasa dan menghilangkan sistem kekuasaan yang memungkinkan seseorang menjadi penguasa. Ia mempertanyakan apakah perjuangan melawan Antony dilakukan agar kekuasaan mutlak berpindah kepada orang lain atau agar republik benar-benar kembali menjadi penguasa atas dirinya sendiri. Dalam kata-katanya, “unless, indeed, our objection was not to slavery itself, but to some particular kind of slavery” atau “kecuali jika keberatan kita sebenarnya bukan terhadap perbudakan itu sendiri, melainkan hanya terhadap jenis perbudakan tertentu.” Bagi Brutus, persoalan utama bukan siapa yang menjadi penguasa, melainkan apakah seseorang dapat memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada hukum dan senat. Karena itu ia menegaskan bahwa ia tidak akan memberikan kepada pewaris Caesar kekuasaan yang sebelumnya ia tolak dari Caesar sendiri.

Pandangan tersebut berlanjut pada penolakannya terhadap permintaan agar Cicero memohon kepada Octavius. Brutus menyatakan bahwa kebebasan tidak dapat bergantung pada kemurahan hati seseorang yang memiliki kekuasaan. Ia bahkan mengatakan bahwa jika ia harus memilih antara hidup dengan kebebasan dan hidup dengan status sebagai orang yang tunduk, ia akan mempertahankan kebebasan meskipun konsekuensinya adalah pengasingan. Baginya, tempat bukanlah ukuran keselamatan. Ia menulis, “It is circumstances, and not place, which must procure me safety” terjemahnya “keadaanlah, bukan tempat, yang harus memberikan keselamatan kepadaku.” Dengan demikian, Brutus memisahkan keselamatan fisik dari keselamatan politik. Tinggal di Roma tidak otomatis berarti hidup dalam keadaan aman apabila kebebasan telah hilang.

Cicero kemudian kembali menulis kepada Brutus dan menjelaskan alasan mengapa ia terus meminta Brutus datang ke Italia. Ia mengatakan bahwa republik berada dalam keadaan genting dan bahwa ia memandang kehadiran Brutus sebagai bantuan yang diperlukan. Pada saat yang sama, Cicero menguraikan alasannya dalam memberikan penghargaan kepada Octavius dan tokoh-tokoh lain. Menurutnya, ketika keadaan sangat genting, pemberian penghargaan kepada Octavius merupakan sesuatu yang diperlukan karena pada saat itu kekuatan militer Octavius menjadi salah satu unsur yang memungkinkan perlawanan terhadap Antony. Cicero bahkan menyatakan bahwa penghargaan yang diberikan kepadanya pada saat itu belum tentu berlebihan jika dilihat dari keadaan yang sedang berlangsung.

Namun, di bagian akhir rentang halaman tersebut, persoalan berubah ketika Cicero menulis kepada Octavius. Surat ini secara editorial masih berada dalam bagian halaman 90–141 yang memuat Letters to Brutus, tetapi penerimanya bukan Brutus. Di dalamnya Cicero mempertanyakan perubahan posisi Octavius dan menggambarkan ketegangan antara penghargaan yang sebelumnya diberikan kepadanya dan tindakan politiknya kemudian. Cicero mengingat bahwa senat memberikan Octavius kekuatan dan kehormatan dengan harapan bahwa kekuatan tersebut digunakan untuk membela republik. Ia mempertanyakan mengapa kekuatan yang diberikan untuk melindungi senat kemudian digunakan untuk menekan kekuasaan senat. Ia bertanya, “Against whom is it that we have armed you?” artinya “Melawan siapa kami mempersenjatai Anda?” Pertanyaan tersebut menjadi pusat kritik Cicero terhadap perubahan hubungan antara Octavius dan lembaga-lembaga republik.

Cicero kemudian membandingkan perkembangan Octavius dengan tindakan Antony. Ia menguraikan bagaimana Antony sebelumnya memperoleh kekuasaan yang besar, sedangkan Octavius pada awalnya memperoleh dukungan senat karena dianggap membantu mengembalikan kebebasan republik. Dalam pandangan Cicero, perubahan tersebut menimbulkan persoalan karena kekuatan yang sebelumnya diberikan untuk menghadapi seorang musuh dapat berubah menjadi kekuatan yang mengancam negara itu sendiri. Ia menggambarkan keadaan tersebut sebagai perubahan yang sangat cepat dalam politik republik, sampai-sampai peristiwa yang terjadi tampak seperti sesuatu yang sulit dipercaya jika kelak dicatat dalam sejarah.

Pada akhirnya, rentang surat-surat ini memperlihatkan bahwa persoalan utama yang terus kembali dalam korespondensi Cicero dan Brutus adalah hubungan antara kebebasan, kekuasaan, hukum, dan keberlangsungan republik. Cicero menekankan kebutuhan akan tindakan politik dan militer, dukungan terhadap kekuatan yang dapat melawan ancaman terhadap republik, serta penggunaan penghargaan dan hukuman untuk mempertahankan negara. Brutus lebih tegas menempatkan kebebasan sebagai prinsip yang tidak boleh ditukar dengan keselamatan pribadi ataupun keuntungan politik. Perbedaan mereka terutama muncul dalam cara menilai tindakan terhadap para lawan dan dalam sikap terhadap meningkatnya kekuasaan Octavius. Namun keduanya sama-sama terus membicarakan satu persoalan pokok, yaitu bagaimana mempertahankan republik agar kekuasaan seorang individu tidak menggantikan kewenangan hukum, senat, dan rakyat Romawi.

kontak kami

inisiatifonline@outlook.co.id

+6288906160520

Dibangun pada 2025