Deishuu Kaiki: Penipu yang Terlalu Jujur tentang Kebohongan Manusia
Kaiki kemudian menyarankan Araragi agar mencurigai suatu generasi ketika sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal tiba-tiba menjadi populer. Nasihat itu bukan berarti semua hal populer pasti buruk. Intinya, popularitas yang tidak masuk akal dapat menjadi petunjuk bahwa ada persoalan lebih mendasar yang sedang diabaikan.
SUDUT PANDANG - POV
Arka C.G.
10/17/20263 min read
Deishuu Kaiki bukan orang yang tepat untuk dimintai nasihat tentang kejujuran. Ia seorang penipu yang menjual jimat palsu, memanfaatkan kepercayaan orang lain, dan menganggap uang sebagai sesuatu yang sangat berharga. Namun, di antara karakter-karakter dalam Monogatari Series, Kaiki justru memiliki pandangan yang menarik tentang manusia. Ia memahami mengapa orang berbohong, mengapa kebohongan dipercaya, dan bagaimana manusia sering kali ikut menciptakan masalah yang kemudian mereka salahkan kepada orang lain.
Dalam Monogatari Series: Second Season, khususnya arc Koimonogatari, Kaiki menjalankan tugas untuk menghadapi Sengoku Nadeko yang telah menjadi dewa ular. Ia tidak mencoba mengalahkan Nadeko dengan kekuatan fisik. Sebaliknya, ia mengandalkan pengamatan, manipulasi, dan pemahamannya tentang keinginan manusia. Cara Kaiki bekerja memperlihatkan bahwa baginya, memahami seseorang tidak selalu berarti mempercayai perkataannya.
Dalam salah satu percakapannya dengan Nadeko, Kaiki mempertanyakan keandalan kata-kata manusia. Ia menjelaskan bahwa ketika suatu perasaan diungkapkan dengan kata-kata, perasaan tersebut dapat terpisah dari makna yang sebenarnya. Bahkan sesuatu yang benar dapat mengalami dramatisasi ketika diceritakan.
Pandangan itu terdengar ekstrim, tetapi cukup sesuai dengan sosok Kaiki. Ia hidup dari perkataan yang tidak dapat dipercaya. Ia tahu bahwa orang bisa mengatakan sesuatu karena ingin dipercaya, ingin dikasihani, atau ingin meyakinkan dirinya sendiri. Kata-kata tidak otomatis menjadi bukti ketulusan hanya karena terdengar meyakinkan.
Akan tetapi, menariknya, Kaiki juga menggunakan kebohongan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Ia tidak berdiri di luar dunia yang dikritiknya. Ia justru menjadi bagian dari dunia itu, bahkan sangat memahami cara kerjanya.
Di sinilah sinisme Kaiki terasa berbeda. Ia tidak mengkritik kebohongan dari posisi orang suci. Ia berbicara seperti seseorang yang mengetahui cara kerja penipuan karena dirinya sendiri adalah penipu.
Pandangan Kaiki tentang uang mungkin merupakan salah satu gambaran paling jelas tentang cara ia memandang kehidupan. Kepada Nadeko, ia mengatakan bahwa uang dapat menggantikan banyak hal: barang, kehidupan, orang, hati, kebahagiaan, bahkan impian. Ia menyukai uang justru karena uang bukan sesuatu yang tidak tergantikan.
Kaiki tidak sedang menyampaikan teori ekonomi yang lengkap. Ia sedang memperlihatkan ketidakpercayaannya terhadap gagasan bahwa ada sesuatu yang mutlak, sakral, dan tidak dapat digantikan. Baginya, orang yang berkata bahwa hidupnya tidak berarti tanpa sesuatu tertentu mungkin sedang membesar-besarkan objek keinginannya.
Namun, percakapannya dengan Nadeko menunjukkan bahwa ia tidak berhenti pada ejekan. Ia mencoba membuat Nadeko mempertanyakan keinginannya sendiri. Nadeko merasa seolah-olah tidak memiliki pilihan selain menjadi dewa dan membunuh Koyomi Araragi. Kaiki justru mengingatkannya pada sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik identitas tersebut, keinginan Nadeko untuk menjadi mangaka.
Kaiki mengetahui bakat Nadeko dalam menggambar setelah melihat karya yang disembunyikannya. Ia bahkan memberikan kritik terhadap cerita yang dibuat Nadeko. Dengan kata lain, ia tidak sekadar menyebut impian Nadeko sebagai sesuatu yang tidak realistis. Ia menunjukkan bahwa Nadeko memiliki kemungkinan hidup lain di luar obsesi romantisnya.
Di sini, sinisme Kaiki justru memiliki sisi yang konstruktif. Ia tidak meminta Nadeko mempercayai keajaiban. Ia mengajaknya kembali kepada sesuatu yang dapat dikerjakan, dikembangkan, dan diperjuangkan.
Dalam Koyomimonogatari, episode kelima, Kaiki menjelaskan kepada Araragi bagaimana jimat-jimat palsunya dapat menjadi populer. Menurutnya, orang yang sedang diliputi kecemasan mudah ditipu karena kebohongan yang mereka terima sulit diverifikasi. Ia juga membalik tuduhan bahwa jimat-jimatnya merusak hubungan antar manusia. Menurut Kaiki, hubungan yang sudah memburuk justru membuat orang berbondong-bondong membeli jimat tersebut.
Pernyataan ini penting karena Kaiki tidak sepenuhnya membebaskan dirinya dari tanggung jawab. Ia tetap seorang penipu. Namun, ia melihat bahwa keberhasilan penipuan tidak hanya bergantung pada kelihaian si penipu. Ada kondisi sosial yang membuat penipuan tersebut menemukan pembelinya.
Jika seseorang takut kehilangan orang yang dicintainya, ia mungkin bersedia membeli jimat yang menjanjikan keselamatan hubungan. Jika suatu kelompok dipenuhi kecurigaan, mereka mungkin mencari penjelasan sederhana untuk masalah yang sebenarnya rumit. Penipu menyediakan jawaban yang ingin didengar, sedangkan korban menyediakan kepercayaan yang dibutuhkan agar kebohongan itu bekerja.
Kaiki kemudian menyarankan Araragi agar mencurigai suatu generasi ketika sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal tiba-tiba menjadi populer. Nasihat itu bukan berarti semua hal populer pasti buruk. Intinya, popularitas yang tidak masuk akal dapat menjadi petunjuk bahwa ada persoalan lebih mendasar yang sedang diabaikan. Dengan demikian, Kaiki melihat kebohongan bukan hanya sebagai cacat moral individu, tetapi juga sebagai gejala dari keadaan yang memungkinkan kebohongan berkembang.
Ada ironi besar dalam karakter Kaiki. Ia memandang manusia dengan kecurigaan, tidak mudah percaya pada kata-kata, dan bersedia menggunakan tipu daya untuk menyelesaikan masalah. Namun, ketika menghadapi Nadeko, ia tetap berusaha menunjukkan bahwa hidupnya tidak harus ditentukan oleh obsesi yang sedang menguasainya.
Kaiki tidak menawarkan harapan dalam bentuk janji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia menawarkan kemungkinan yang lebih konkret, Nadeko masih memiliki pilihan jalan lain. Ia bisa berhenti menjadi dewa, kembali menjadi manusia, dan mengembangkan kemampuannya.
Barangkali inilah yang membuat Kaiki menarik. Ia tidak memerlukan keyakinan bahwa manusia pada dasarnya baik untuk menganggap bahwa manusia masih dapat berubah. Ia hanya perlu melihat bahwa keinginan, pilihan, dan keadaan manusia tidak sesederhana cerita yang mereka sampaikan kepada diri sendiri.
Kaiki adalah penipu yang memahami kebohongan, tetapi ia juga tahu bahwa manusia tidak harus selamanya hidup di dalam kebohongan tersebut. Ia mungkin tidak percaya pada kata-kata yang indah, tetapi tindakannya terhadap Nadeko menunjukkan bahwa ia masih bersedia membantu seseorang menemukan jalan keluar. Mungkin itulah paradoks terbesar Deishuu Kaiki, ia begitu sinis terhadap manusia, tetapi justru karena memahami kelemahan mereka, ia kadang-kadang tahu cara menolong mereka.
Catatan: Artikel ini didasarkan pada dialog dan tindakan Kaiki dalam anime. Kutipan bahasa Indonesia merupakan terjemahan atau parafrasa; redaksi dapat berbeda menurut versi subtitle yang digunakan.
