Demonstrasi Besar di Prancis Berujung Kerusuhan, Ratusan Ribu Orang Protes Menyoal Pendidikan, Biaya Hidup dan Layanan Publik

Gelombang demonstrasi yang berlangsung pada Oktober 2026 bermula dari aksi pelajar yang menuntut perbaikan kondisi pendidikan. Persoalan yang disoroti mencakup kekurangan tenaga pengajar, ruang kelas yang terlalu padat, fasilitas sekolah yang memburuk, serta keterbatasan anggaran pendidikan.

BERITA-POLITIK INTERNASIONAL

Edi.

10/19/20263 min read

Demonstrasi yang melibatkan ratusan ribu orang di berbagai kota di Prancis pada Sabtu (17/10/2026) berujung pada bentrokan, penjarahan, dan pembakaran bangunan. Aksi yang awalnya dipicu persoalan pendidikan berkembang menjadi gerakan protes yang lebih luas terhadap kenaikan biaya hidup, mahalnya bahan bakar, serta memburuknya kualitas layanan publik.

Reuters dalam laporan Mass protests in France spiral into worst riots in years menyebutkan bahwa demonstrasi tersebut diperkirakan diikuti sekitar 550.000 hingga 800.000 orang. Aksi berlangsung di berbagai wilayah, dengan sebagian besar peserta menyampaikan tuntutan secara damai sebelum kelompok-kelompok tertentu terlibat dalam kekerasan.

Associated Press (AP), melalui laporan Clashes, fires and looting break out as protesters rally across France, joining students, juga mencatat mobilisasi besar-besaran yang melibatkan pelajar, mahasiswa, serikat pekerja, serta kelompok yang terinspirasi gerakan rompi kuning atau gilets jaunes. Gerakan tersebut sebelumnya muncul pada 2018 sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan ekonomi dan ketimpangan sosial.

Gelombang demonstrasi yang berlangsung pada Oktober 2026 bermula dari aksi pelajar yang menuntut perbaikan kondisi pendidikan. Persoalan yang disoroti mencakup kekurangan tenaga pengajar, ruang kelas yang terlalu padat, fasilitas sekolah yang memburuk, serta keterbatasan anggaran pendidikan.

Euronews dalam laporan From school blockades to violence: what is driving student protests in France? menjelaskan bahwa demonstrasi pelajar berkembang dari kawasan pinggiran Paris pada September 2026 sebelum menyebar ke berbagai wilayah. Ketidakpuasan terhadap kondisi sekolah kemudian meluas menjadi kritik terhadap prioritas belanja pemerintah dan ketimpangan sosial.

The Guardian, dalam laporan Nationwide protests in France against high prices and fraying of social security system, menyebutkan bahwa mobilisasi 17 Oktober mempertemukan berbagai kelompok yang memiliki tuntutan berbeda, tetapi sama-sama menyoroti tekanan ekonomi dan melemahnya perlindungan sosial.

Kenaikan harga kebutuhan hidup dan bahan bakar menjadi bagian penting dari ketidakpuasan tersebut. Keterlibatan serikat pekerja dan kelompok rompi kuning memperluas cakupan gerakan yang sebelumnya berpusat pada persoalan pendidikan.

Situasi memburuk ketika bentrokan terjadi di Paris dan sejumlah kota lain, termasuk Lyon, Marseille, Bordeaux, dan Limoges. Sejumlah toko dijarah, kendaraan dibakar, dan bangunan publik mengalami kerusakan. Balai kota bersejarah di Limoges dilaporkan terbakar, sementara gedung pemerintahan di Marseille turut menjadi sasaran aksi.

Al Jazeera dalam laporan Paris left reeling as student-led protests turn chaotic menggambarkan dampak kerusuhan yang terlihat di Paris sehari setelah demonstrasi. Sejumlah toko mengalami kerusakan, jendela bangunan pecah, dan puing-puing berserakan di kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi aksi.

Le Monde, melalui laporan October 17 French protests: Crowds marched through the streets before violence, looting and chaos broke out, mencatat bahwa demonstrasi yang pada awalnya berlangsung relatif tertib berubah menjadi kerusuhan di sejumlah lokasi. Kelompok-kelompok kecil yang melakukan penjarahan dan perusakan membuat aparat kesulitan mengendalikan situasi di tengah besarnya jumlah peserta.

Perkiraan jumlah penangkapan berbeda menurut waktu pelaporan dan sumber. Reuters dan AP dalam laporan awal menyebutkan sekitar 400 penangkapan, sedangkan laporan lanjutan The Guardian mencatat lebih dari 1.800 orang ditangkap. Reuters kemudian melaporkan bahwa jumlah penangkapan meningkat hingga hampir 2.400 orang pada Minggu (18/10/2026). Angka-angka tersebut mencerminkan perkembangan situasi selama proses penertiban berlangsung.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam aksi kekerasan dan penjarahan yang terjadi selama demonstrasi. Pemerintah menyatakan bahwa tindakan perusakan tidak dapat dibenarkan dan pihak-pihak yang bertanggung jawab akan diproses secara hukum.

Euronews dalam laporan Macron vows to hold those who sought to bring down the Republic accountable after riots memberitakan bahwa Macron menyampaikan sikap tersebut dalam pidato kepada masyarakat pada Minggu. Pemerintah berupaya memulihkan ketertiban sekaligus menghadapi tekanan politik yang meningkat menjelang pemilihan presiden berikutnya.

Reuters dalam laporan Macron urges calm as France counts cost of worst unrest in years juga menyoroti besarnya dampak kerusuhan terhadap keamanan dan kegiatan ekonomi. Pemerintah menghadapi tuntutan untuk menindak pelaku kekerasan, sementara kerusakan terhadap toko dan fasilitas umum menambah beban pemulihan.

Meski demikian, demonstrasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan keamanan. Tuntutan mengenai biaya hidup, kondisi pendidikan, upah, dan kualitas layanan publik tetap menjadi persoalan yang mendasari mobilisasi masyarakat.

Meluasnya demonstrasi menunjukkan bahwa ketidakpuasan yang semula terpusat pada dunia pendidikan telah berkembang menjadi persoalan sosial dan politik yang lebih luas. Bagi pemerintah Prancis, tantangan berikutnya adalah memulihkan ketertiban tanpa mengabaikan tuntutan masyarakat yang menjadi latar belakang aksi tersebut.

kontak kami

inisiatifonline@outlook.co.id

+6288906160520

Dibangun pada 2025