Kazuma Sato, Feminis yang Tidak Pernah Benar-Benar Meyakinkan
Sekilas, pernyataan tersebut terdengar seperti pembelaan terhadap prinsip bahwa perempuan tidak semestinya kebal dari konsekuensi hanya karena jenis kelaminnya. Jika seorang perempuan melakukan kejahatan, ia tetap harus bertanggung jawab.
SUDUT PANDANG - POV
Arka C.G.
10/18/20263 min read
Jika ada penghargaan untuk tokoh anime yang paling berani mengaku sebagai pendukung kesetaraan gender sekaligus paling diragukan kelayakannya menjadi panutan, Kazuma Sato dari KonoSuba mungkin layak masuk nominasi. Ia bukan aktivis, bukan pemikir politik, dan jelas bukan pahlawan dengan moralitas tanpa cela. Ia hanyalah seorang petualang yang ingin hidup nyaman, mendapatkan uang, dan sesekali menikmati keberuntungan bersama perempuan-perempuan cantik.
Kazuma memiliki satu prinsip yang cukup terkenal di kalangan penggemar KonoSuba, yaitu kesetaraan gender sejati. Dalam episode ketiga musim pertama, ketika kemampuan Steal miliknya justru mengambil pakaian dalam Darkness, Kazuma berhadapan dengan konsekuensi tindakannya. Darkness mengecamnya sebagai orang cabul. Alih-alih merenungkan persoalan etika di balik tindakannya, Kazuma malah menolak gambaran bahwa dirinya harus diperlakukan secara berbeda hanya karena ia laki-laki. Adegan ini memperkenalkan salah satu lelucon paling khas dalam karakterisasi Kazuma, ia dapat membungkus perilaku buruknya dengan bahasa kesetaraan.
Prinsip itu muncul lebih eksplisit dalam film KonoSuba: Legend of Crimson. Ketika menghadapi Sylvia, salah satu jenderal Raja Iblis, Kazuma menyatakan bahwa ia tidak akan memberikan belas kasihan hanya karena lawannya perempuan. Ia kemudian menegaskan bahwa atas nama kesetaraan gender sejati, ia bersedia melayangkan tendangan kepada perempuan jahat yang memang pantas menerimanya.
Sekilas, pernyataan tersebut terdengar seperti pembelaan terhadap prinsip bahwa perempuan tidak semestinya kebal dari konsekuensi hanya karena jenis kelaminnya. Jika seorang perempuan melakukan kejahatan, ia tetap harus bertanggung jawab. Dalam pengertian terbatas ini, Kazuma memang menyentuh salah satu gagasan yang bisa ditemukan dalam pemikiran feminis: kesetaraan tidak selalu berarti perlakuan istimewa.
Masalahnya, Kazuma bukan orang yang konsisten menerapkan prinsip tersebut. Ia juga gemar memandang perempuan berdasarkan daya tarik fisiknya, mengeluh tentang perilaku teman-teman perempuannya, dan menunjukkan ketertarikan seksual yang sering kali lebih menonjol daripada penghormatannya terhadap mereka. Hubungannya dengan Darkness, misalnya, memperlihatkan bahwa ia bisa tertarik pada tubuh seorang perempuan sambil tetap mengejek kepribadiannya. Hubungannya dengan Aqua pun lebih sering diwarnai pertengkaran daripada penghormatan yang luhur.
Dengan kata lain, Kazuma tidak bisa begitu saja disebut feminis hanya karena ia mengucapkan kalimat tentang kesetaraan gender. Dalam feminisme, persoalannya bukan sekadar apakah perempuan boleh ditendang sebagaimana laki-laki, melainkan juga apakah perempuan diperlakukan sebagai manusia yang memiliki kehendak, martabat, dan hak yang setara.
Di sinilah kelucuan sekaligus kontradiksi Kazuma terlihat. Ia ingin dipandang sebagai orang yang menolak standar ganda, tetapi dirinya sendiri sering terjebak dalam cara pandang yang menguntungkan keinginannya. Kesetaraan menjadi prinsip yang terdengar gagah ketika bisa dipakai untuk membenarkan tindakannya, bukan selalu pedoman moral yang membatasi dirinya.
Meski demikian, Kazuma tidak sepenuhnya bisa diringkas sebagai seorang misoginis yang hanya memanfaatkan perempuan. Dalam berbagai petualangan, ia bekerja bersama Aqua, Megumin, dan Darkness sebagai rekan satu kelompok. Mereka memiliki kemampuan, kelemahan, serta keanehan masing-masing, dan Kazuma harus mengandalkan mereka untuk bertahan hidup. Hubungan itu bukan gambaran ideal tentang kesetaraan, tetapi juga bukan hubungan yang dapat dijelaskan hanya melalui dominasi laki-laki atas perempuan.
Lantas, apakah Kazuma seorang feminis? Jawabannya bergantung pada apakah kita menilai seseorang dari slogan yang diucapkannya atau dari cara ia memperlakukan orang lain. Jika hanya berdasarkan ucapannya, Kazuma bisa dianggap sebagai pendukung kesetaraan gender dalam pengertian yang sangat sederhana, yaitu perempuan tidak otomatis benar atau harus diistimewakan. Namun, jika penilaian mencakup perilaku dan sikapnya terhadap perempuan, kesimpulannya jauh lebih rumit.
Kazuma mungkin bukan feminis. Ia bahkan tidak tampak terlalu peduli pada perdebatan ideologis semacam itu. Ia lebih menyerupai seorang oportunis yang kebetulan memiliki slogan kesetaraan gender yang terdengar meyakinkan. Dan justru itulah leluconnya, di dunia KonoSuba, prinsip mulia pun bisa keluar dari mulut seseorang yang jauh dari kata mulia.
Barangkali pelajaran paling masuk akal dari Kazuma bukanlah bahwa kita harus meniru caranya memperjuangkan kesetaraan gender, melainkan bahwa mengaku mendukung kesetaraan tidak sama dengan benar-benar memperlakukan orang lain secara setara.
Catatan: Artikel ini menggunakan dialog dan penggambaran karakter dalam anime sebagai bahan pembacaan. Terjemahan kutipan dapat berbeda menurut versi subtitle; analisis ini bukan pernyataan resmi kreator anime tentang ideologi Kazuma.
