Leo Tolstoy: Kritik Terhadap “Kaum Terpelajar” dan “Iman adalah kekuatan hidup.”

Bagi Tolstoy, iman memberikan dimensi yang tidak dapat ditemukan dalam keberadaan manusia yang dipandang semata-mata sebagai sesuatu yang terbatas. Kehidupan tidak lagi dinilai hanya berdasarkan panjangnya usia, banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau besarnya pengaruh yang ditinggalkan. Maknanya berkaitan dengan hubungan manusia terhadap sesuatu yang melampaui kepentingan dirinya sendiri dan keterbatasan hidupnya.

SUDUT PANDANG - POV

Arka C.G.

10/14/20265 min read

Ada masa ketika seseorang merasa telah memiliki hampir segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bahagia. Ia mempunyai keluarga, kekayaan, kehormatan, pekerjaan yang berhasil, dan kemampuan intelektual yang diakui banyak orang. Namun, di tengah segala pencapaian itu, muncul pertanyaan yang mengguncang seluruh keyakinannya: untuk apa semua ini jika pada akhirnya kehidupan akan berakhir dalam kematian?

Pertanyaan tersebut menjadi titik tolak pergulatan pemikiran Leo Tolstoy dalam A Confession atau Sebuah Pengakuan. Melalui buku ini, Tolstoy tidak sekadar menceritakan krisis pribadi yang dialaminya, tetapi juga mempertanyakan keyakinan yang selama ini menopang kehidupan manusia. Baginya, persoalan tentang makna hidup bukanlah perdebatan intelektual yang dapat disisihkan ketika seseorang sibuk bekerja. Pertanyaan itu justru menyentuh dasar dari segala sesuatu yang dikerjakan manusia.

Tolstoy mengungkapkan persoalannya dengan sederhana, tetapi mendasar. “Apa yang akan terjadi dari apa yang kulakukan hari ini atau besok? Apa yang akan terjadi dari seluruh hidupku?” Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu sejalan dengan pemahaman tentang tujuan hidup. Seseorang dapat mengetahui cara memperoleh kekayaan, membangun karier, mendidik anak, atau meraih pengakuan, tetapi tetap tidak mengetahui mengapa semua itu perlu dilakukan.

Pergulatan tersebut menjadi semakin tajam ketika Tolstoy menengok kembali perjalanan hidupnya. Ia mengakui pernah menjalani kehidupan yang bertentangan dengan kebaikan moral, sementara lingkungan sosialnya justru memberikan penghargaan atas perilakunya. Pengalaman ini memperlihatkan persoalan lain yang menjadi perhatian penting dalam pemikirannya: penilaian masyarakat tidak selalu menjadi ukuran yang dapat diandalkan untuk menentukan baik dan buruk.

Dalam pengakuannya, Tolstoy menulis, “Aku telah membunuh banyak lelaki dalam perang dan menantang banyak lelaki berduel untuk membunuh mereka. Aku kalah dalam permainan kartu, memeras tenaga para petani, menjatuhkan mereka ke dalam hukuman, hidup bebas dan menipu orang.” Ia kemudian mengakui bahwa perilaku semacam itu tidak menghalanginya untuk dipandang sebagai orang bermoral oleh orang-orang sezamannya.

Pengalaman tersebut menjadi bahan kritik terhadap kehidupan yang terlalu bergantung pada pengakuan sosial. Seseorang dapat dianggap berhasil, terhormat, bahkan berpengaruh tanpa pernah sungguh-sungguh memeriksa nilai moral dari tindakannya. Dalam pandangan Tolstoy, penghormatan yang diberikan masyarakat tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seseorang telah menjalani kehidupan yang benar.

Kritik serupa diarahkan kepada dunia intelektual yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Tolstoy menceritakan bagaimana ia dan rekan-rekannya di kalangan penulis merasa memiliki tugas untuk mengajar masyarakat. Mereka menulis, menerbitkan buku, dan menyampaikan gagasan tentang perkembangan manusia. Namun, di balik keyakinan bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang penting bagi kemanusiaan, terdapat persaingan, pertentangan, hasrat memperoleh uang, serta keinginan mendapatkan pujian.

Masalahnya bukan semata-mata bahwa manusia mencari penghasilan atau menginginkan penghargaan. Tolstoy justru menunjukkan bahaya ketika kepentingan semacam itu disembunyikan di balik pernyataan luhur tentang kemajuan dan kepentingan umum. Gagasan yang seharusnya diuji berdasarkan kebenarannya dapat berubah menjadi alat untuk membenarkan kedudukan orang yang mengemukakannya.

Ia pun mulai meragukan keyakinan bahwa kemajuan manusia dengan sendirinya dapat menjelaskan tujuan kehidupan. Kemajuan mungkin menggambarkan perubahan, perkembangan pengetahuan, atau peningkatan kemampuan manusia. Akan tetapi, mengetahui bahwa sesuatu berkembang tidak otomatis menjawab pertanyaan apakah perkembangan itu membawa manusia menuju kehidupan yang lebih baik dan mengapa kehidupan itu sendiri layak dijalani.

Bagi Tolstoy, persoalan tersebut menjadi nyata ketika ia menyaksikan penderitaan dan kematian. Pengetahuan tentang perkembangan masyarakat tidak memberinya jawaban yang memadai mengenai kematian kakaknya. Demikian pula, pemikiran tentang kemajuan tidak mampu membenarkan kekejaman yang ia saksikan. Dari pengalaman itu, ia mempertanyakan anggapan bahwa sesuatu dapat disebut baik hanya karena diterima masyarakat atau dianggap sebagai bagian dari kemajuan zaman.

Persoalan makna hidup kemudian muncul dengan kekuatan yang tidak dapat lagi diabaikannya. Pada saat itu, Tolstoy telah memiliki keluarga, kekayaan, reputasi, dan keberhasilan sebagai penulis. Namun, semua pencapaian tersebut kehilangan kemampuannya untuk memberikan ketenangan. Ia mulai mempertanyakan tujuan dari pekerjaan, kepemilikan, pendidikan anak-anak, dan ketenaran yang sebelumnya dikejarnya.

Pengalaman itu memperlihatkan perbedaan antara mengetahui cara mencapai tujuan dan mengetahui mengapa tujuan tersebut layak dikejar. Manusia dapat menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mencapai sesuatu, tetapi ketika keberhasilan itu diperoleh, ia mungkin kembali berhadapan dengan pertanyaan yang sama: setelah semua ini, lalu apa?

Tolstoy juga tidak menemukan jawaban yang memuaskan melalui pengetahuan ilmiah semata. Ia menghargai kemampuan ilmu pengetahuan dalam menjelaskan berbagai gejala dan hukum yang mengatur alam. Akan tetapi, baginya, penjelasan mengenai bagaimana sesuatu terjadi tidak selalu menjawab pertanyaan mengapa manusia hidup dan untuk apa ia menjalani kehidupannya.

Ia melihat adanya perbedaan antara pengetahuan yang menjelaskan kenyataan secara terperinci dan pengetahuan yang memberi orientasi bagi kehidupan. Ilmu dapat membantu manusia memahami tubuh, alam, angka, dan berbagai proses yang berlangsung di sekitarnya. Namun, pertanyaan mengenai tujuan hidup menuntut jawaban yang tidak berhenti pada penjelasan tentang proses-proses tersebut.

Dari sinilah Tolstoy mulai meninjau kembali pandangannya tentang iman. Ia tidak sampai pada keyakinan melalui jalan yang sederhana. Sebaliknya, ia terlebih dahulu mengalami pertentangan antara tuntutan akal dan kebutuhan untuk menemukan makna. Ia tidak dapat begitu saja menerima seluruh ajaran agama yang diwarisinya sejak kecil, tetapi ia juga tidak menemukan ketentraman dalam pandangan yang menempatkan kehidupan sebagai sesuatu yang pada akhirnya tidak memiliki arti.

Dalam pencarian tersebut, Tolstoy memperhatikan kehidupan orang-orang sederhana, terutama kaum pekerja dan petani. Ia melihat bahwa mereka menjalani kehidupan yang tidak selalu mudah, bahkan sering kali dipenuhi kekurangan dan penderitaan, tetapi tetap memiliki alasan untuk bekerja, mencintai, bertahan, dan menerima kematian. Pengamatan ini menggoyahkan anggapannya bahwa pengetahuan kaum terpelajar dengan sendirinya lebih mampu menjawab persoalan mendasar tentang kehidupan.

Tolstoy menyadari bahwa orang-orang sederhana itu tidak selalu memiliki penjelasan filosofis yang rumit. Namun, kehidupan mereka ditopang oleh keyakinan yang memberikan arah bagi tindakan sehari-hari. Mereka tidak sekadar mengetahui bahwa kehidupan berlangsung; mereka memiliki alasan untuk menjalaninya.

Dari pengalaman tersebut, Tolstoy sampai pada pemahaman bahwa iman tidak cukup dimengerti sebagai persetujuan terhadap serangkaian pernyataan atau ajaran yang diwariskan. Ia menulis, “Iman adalah kekuatan hidup.” Dalam pemikirannya, iman berkaitan dengan pengetahuan mengenai makna kehidupan yang memungkinkan manusia terus hidup dan bertindak, sekalipun ia menyadari adanya penderitaan, kehilangan, dan kematian.

Pergeseran ini penting karena Tolstoy tidak sedang menyatakan bahwa pertanyaan kritis harus ditinggalkan. Justru keraguan dan pencarian yang panjang membawanya untuk memahami bahwa akal memiliki kemampuan sekaligus keterbatasan. Ia tidak menemukan makna hidup hanya dengan menambah pengetahuan tentang dunia, melainkan dengan mempertanyakan hubungan antara pengetahuan tersebut dan alasan manusia menjalani kehidupannya.

Bagi Tolstoy, iman memberikan dimensi yang tidak dapat ditemukan dalam keberadaan manusia yang dipandang semata-mata sebagai sesuatu yang terbatas. Kehidupan tidak lagi dinilai hanya berdasarkan panjangnya usia, banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau besarnya pengaruh yang ditinggalkan. Maknanya berkaitan dengan hubungan manusia terhadap sesuatu yang melampaui kepentingan dirinya sendiri dan keterbatasan hidupnya.

Pemahaman itu juga berhubungan dengan pandangannya mengenai kesempurnaan moral. Sejak muda, Tolstoy pernah berusaha memperbaiki diri melalui pengetahuan, latihan, dan pengendalian hasrat. Namun, upaya tersebut kemudian bergeser menjadi keinginan untuk lebih kuat, lebih terkenal, dan lebih penting daripada orang lain. Pengalaman ini menunjukkan bagaimana keinginan untuk menjadi lebih baik dapat kehilangan tujuan moralnya ketika keberhasilan hanya diukur melalui perbandingan dengan sesama.

Dalam pencariannya, Tolstoy kembali menempatkan kehidupan moral sebagai bagian penting dari makna hidup. Ia melihat bahwa menjalani kehidupan yang saleh, sebagaimana dipahami dalam lingkungan rakyat yang diamatinya, berkaitan dengan kerja, kerendahan hati, kesediaan menanggung penderitaan, dan belas kasih. Makna hidup tidak berhenti pada keyakinan yang diucapkan, tetapi tercermin dalam cara seseorang menjalani kehidupan dan memperlakukan orang lain.

Dengan demikian, pencarian Tolstoy bukan sekadar perpindahan dari keraguan menuju keyakinan. Pencarian itu juga merupakan upaya menata kembali hubungan antara pikiran, keyakinan, dan tindakan. Ia mempertanyakan pengetahuan yang tidak mampu memberikan arah, kemajuan yang tidak menjamin kebaikan, serta keberhasilan yang tidak menjawab tujuan hidup. Pada akhirnya, ia menemukan bahwa jawaban atas pertanyaan tentang kehidupan tidak dapat dipisahkan dari cara manusia hidup.

Pemikiran Tolstoy dalam A Confession berangkat dari pengalaman yang sangat pribadi, tetapi pertanyaan yang diajukannya melampaui dirinya sendiri. Apa gunanya pencapaian jika seseorang tidak memahami tujuan yang hendak dicapai? Apa arti pengetahuan jika ia tidak membantu manusia menentukan bagaimana seharusnya hidup? Dan apa makna keberhasilan jika kehidupan yang menyertainya tidak memberikan alasan yang cukup untuk terus dijalani?

Tolstoy tidak menyajikan pencariannya sebagai perjalanan yang mudah ataupun sebagai jawaban yang diperoleh tanpa pergulatan. Ia justru memperlihatkan bahwa pertanyaan paling mendasar tentang kehidupan dapat muncul ketika segala sesuatu yang sebelumnya dianggap penting tidak lagi memadai. Melalui pengakuan itu, ia mengajak pembaca melihat kembali ukuran keberhasilan, hubungan antara pengetahuan dan kebijaksanaan, serta arti keyakinan dalam kehidupan manusia.

Pada akhirnya, persoalan yang ditinggalkan Tolstoy bukan sekadar apakah manusia telah mencapai apa yang diinginkannya, melainkan apakah ia memahami alasan di balik keinginannya. Sebab, mengetahui bagaimana menjalani hidup belum tentu berarti memahami untuk apa hidup dijalani.

kontak kami

inisiatifonline@outlook.co.id

+6288906160520

Dibangun pada 2025