Melampaui Penampilan, Terus Belajar, dan Memperbaiki Diri: Pelajaran dari Jalaluddin Rumi
“Kita harus melampaui sifat-sifat baik dan buruk yang untuk sementara terdapat dalam diri setiap orang, lalu berusaha memahami hakikat dirinya.”
SUDUT PANDANG - POV
Arka C.G.
10/14/20263 min read
Dalam Discourses of Rumi (Terjemah bahasa Inggri dari Fihi Ma Fihi karya Rumi), Jalaluddin Rumi menyampaikan pemikiran tentang manusia, pengetahuan, dan kehidupan melalui dialog, kisah, serta perumpamaan. Meskipun karya ini lahir dari tradisi spiritual Islam, sejumlah gagasannya dapat dibaca secara universal, terutama mengenai pentingnya memahami orang lain secara mendalam, terbuka terhadap pengetahuan, dan menjadikan perbaikan diri sebagai langkah awal perubahan.
Salah satu gagasan yang relevan dalam kehidupan sehari-hari adalah pentingnya melihat seseorang melampaui penampilan dan sifat-sifat yang tampak di permukaan. Rumi mengingatkan bahwa penilaian terhadap orang lain sering kali dibangun berdasarkan ciri-ciri yang belum tentu menggambarkan keseluruhan diri mereka. Seseorang dapat dikenal melalui pekerjaan, penampilan, reputasi, atau kesalahan yang pernah dilakukannya. Namun, hal-hal tersebut tidak selalu cukup untuk memahami siapa dirinya sebenarnya.
Rumi menulis, “We must pass beyond the good and bad qualities that are present temporarily in everyone, and must enter into the other’s very essence” Artinya, “Kita harus melampaui sifat-sifat baik dan buruk yang untuk sementara terdapat dalam diri setiap orang, lalu berusaha memahami hakikat dirinya.”
Gagasan tersebut mengajak pembaca untuk tidak terburu-buru menyimpulkan karakter seseorang berdasarkan satu tindakan atau keadaan tertentu. Seseorang yang pernah melakukan kesalahan tidak harus selamanya didefinisikan oleh kesalahannya. Demikian pula, orang yang memiliki reputasi baik tidak otomatis terbebas dari kekurangan. Memahami manusia membutuhkan perhatian yang lebih mendalam daripada sekadar mengumpulkan kesan dan memberi label.
Pandangan ini juga relevan dalam hubungan sosial. Perselisihan sering kali membesar karena orang lebih sibuk menilai daripada memahami. Ketika seseorang hanya melihat kekurangan orang lain, ia berisiko mengabaikan latar belakang, perubahan, dan kemungkinan bahwa orang tersebut dapat memperbaiki dirinya. Memahami bukan berarti membenarkan setiap tindakan, melainkan memberikan penilaian secara lebih cermat dan adil.
Selain mengajak pembaca memahami manusia secara lebih mendalam, Rumi juga menekankan pentingnya kesediaan untuk terus belajar. Pengetahuan tidak semestinya dibatasi oleh satu sumber, satu lingkungan, atau satu orang yang dianggap paling berwenang. Pengalaman hidup, percakapan, dan perjumpaan dengan orang lain dapat menjadi kesempatan untuk memperoleh pemahaman baru, selama seseorang bersedia mendengarkan dan berpikir secara terbuka.
Dalam pembahasannya mengenai pengetahuan, Rumi menulis, “Then be expectant of understanding and learning something from every teacher and every friend” Artinya, “Karena itu, bersiaplah untuk memahami dan mempelajari sesuatu dari setiap guru dan setiap teman.”
Pesan tersebut menempatkan proses belajar sebagai kegiatan yang berlangsung terus-menerus. Seseorang tidak harus selalu berada di ruang kelas untuk memperoleh pengetahuan. Rekan kerja dapat mengajarkan kedisiplinan, perbedaan pendapat dapat memperlihatkan kelemahan suatu argumen, dan pengalaman menghadapi kegagalan dapat membantu seseorang mengenali kesalahan dalam mengambil keputusan.
Namun, keterbukaan terhadap pengetahuan tidak berarti menerima semua pendapat tanpa pertimbangan. Belajar dari orang lain tetap membutuhkan kemampuan menilai informasi, memeriksa alasan, dan membedakan pendapat yang masuk akal dari yang tidak didukung bukti. Sikap terbuka justru menjadi lebih bermakna ketika disertai kesediaan untuk menguji pemahaman sendiri.
Pemikiran Rumi juga dapat dibaca sebagai pengingat bahwa perubahan sebaiknya dimulai dari diri sendiri. Dalam bagian lain, ia membahas pentingnya memperbaiki karakter sebelum berusaha menunjukkan keunggulan di hadapan orang lain. Ia menulis bahwa seseorang terlebih dahulu perlu memperbaiki dirinya dan meningkatkan kualitas karakternya sebelum mengarahkan upaya untuk membenahi orang lain.
Pesan ini memiliki relevansi dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Tidak sedikit orang yang mudah mengenali kesalahan orang lain, tetapi kesulitan melihat kekurangan dalam dirinya sendiri. Seseorang dapat menuntut kejujuran, misalnya, tetapi mengabaikan ketidakjujuran kecil yang dilakukannya. Ia dapat mengharapkan kedisiplinan dari orang lain, tetapi tidak konsisten menjalankan tanggung jawabnya sendiri.
Memulai perubahan dari diri sendiri bukan berarti mengabaikan ketidakadilan atau membebaskan orang lain dari tanggung jawab. Sebaliknya, langkah tersebut mengharuskan seseorang memastikan bahwa kritik dan tuntutan yang disampaikannya juga berlaku bagi dirinya. Ketika seseorang bersedia memeriksa tindakannya sendiri, ia memiliki dasar yang lebih kuat untuk menyampaikan kritik, membangun kepercayaan, dan memperbaiki hubungan dengan orang lain.
Ketiga gagasan tersebut saling berkaitan. Upaya memahami orang lain membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa penilaian kita mungkin belum lengkap. Kesediaan belajar menuntut pengakuan bahwa pengetahuan kita masih terbatas. Sementara itu, perbaikan diri membutuhkan keberanian untuk melihat kekurangan sendiri tanpa terus-menerus mencari kesalahan pihak lain.
Membaca Rumi melalui gagasan-gagasan tersebut tidak mengharuskan pembaca mengikuti seluruh landasan teologis yang terdapat dalam karyanya. Nilai-nilai tentang pemahaman terhadap sesama, keterbukaan terhadap pengetahuan, dan tanggung jawab memperbaiki diri dapat direnungkan oleh siapa pun, terlepas dari agama atau keyakinannya. Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam keluarga, lingkungan kerja, pendidikan, maupun kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, ukuran kematangan seseorang bukan hanya seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki atau seberapa baik ia menilai orang lain, melainkan juga kesediaannya untuk terus belajar, meninjau kembali penilaiannya, dan memperbaiki perilakunya sendiri. Melalui pemikiran Rumi, pembaca diajak melihat bahwa memahami manusia dan membangun kehidupan yang lebih baik merupakan proses yang berawal dari keterbukaan pikiran serta kesungguhan untuk berubah.
