Michael Shermer: Menjawab Mengapa Harapan Membentuk Keyakinan, Bahkan dalam Sains
. . .bantuan psikologis yang lebih mendalam dapat memerlukan waktu dan proses panjang, layanan paranormal menawarkan jawaban yang cepat. Dengan demikian, daya tariknya tidak hanya terletak pada klaim kemampuan khusus, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan emosional yang segera dirasakan.
SUDUT PANDANG - POV
Arka C.G.
10/9/20269 min read


Artikel ini disusun berdasarkan buku Why People Believe Weird Things: Pseudoscience, Superstition, and Other Confusions of Our Time karya Michael Shermer, khususnya Part 5: Hope Springs Eternal, yang mencakup bab “Dr. Tipler Meets Dr. Pangloss”, “Why Do People Believe Weird Things?”, serta bagian awal “Why Smart People Believe Weird Things”. Dalam bagian tersebut, Shermer membahas bagaimana harapan, kebutuhan psikologis, dan kecenderungan manusia dalam membangun keyakinan dapat mempengaruhi penafsiran terhadap dunia, termasuk dalam kegiatan ilmiah.
Manusia memiliki kecenderungan untuk berharap bahwa kehidupan dapat menjadi lebih baik daripada keadaan yang dialaminya sekarang. Harapan tersebut tidak hanya muncul dalam agama, mitos, dan takhayul, tetapi juga dapat mempengaruhi cara manusia memahami ilmu pengetahuan. Michael Shermer menunjukkan persoalan ini melalui pemikiran Alfred Russel Wallace, seorang naturalis Inggris yang dikenal sebagai salah satu penemu teori seleksi alam bersama Charles Darwin. Wallace berpendapat bahwa kemampuan otak manusia, termasuk matematika tingkat tinggi dan apresiasi estetika, tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui evolusi karena kemampuan tersebut dianggap tidak memiliki tujuan yang jelas dalam lingkungan alam. Ia kemudian menyimpulkan bahwa perkembangan manusia memerlukan campur tangan kecerdasan yang lebih tinggi.
Dalam menguraikan pandangan Wallace, Shermer memperlihatkan bagaimana keyakinan mengenai tujuan dan kesempurnaan dapat mempengaruhi penafsiran terhadap proses alam. Wallace beranggapan bahwa evolusi seharusnya menghasilkan organisme yang paling sempurna dalam dunia yang juga dianggap sebagai dunia terbaik. Ketika kenyataan tidak sepenuhnya sesuai dengan anggapan tersebut, ia mengajukan keberadaan kecerdasan yang lebih tinggi sebagai penjelasan. Menurut Shermer, pemikiran ini menunjukkan kecenderungan untuk menganggap bahwa segala sesuatu harus memiliki tujuan tertentu dan bahwa ketidaksempurnaan alam memerlukan penjelasan di luar proses alam itu sendiri.
Kecenderungan serupa ditemukan Shermer dalam pemikiran William Paley, teolog Inggris yang pada 1802 mengemukakan analogi antara jam dan alam semesta. Paley berpendapat bahwa sebagaimana jam memiliki bagian-bagian yang tersusun untuk suatu tujuan dan karena itu memerlukan pembuat jam, alam semesta juga memerlukan pencipta. Shermer mengutip penjelasan Paley mengenai analogi tersebut:
“In crossing a heath, suppose I pitched my foot against a stone, and were asked how the stone came to be there; I might possibly answer, that, for any thing I knew to the contrary, it had lain there for ever.... But suppose I had found a watch upon the ground, and it should be inquired how the watch happened to be in that place; I should hardly think of the answer which I had before given, that, for any thing I knew, the watch might have always been there.”
Terjemahannya: “Ketika melintasi tanah terbuka, misalkan kaki saya membentur sebuah batu dan saya ditanya bagaimana batu itu berada di sana, mungkin saya menjawab bahwa, sejauh yang saya ketahui, batu itu telah berada di sana sejak dahulu kala. Namun, seandainya saya menemukan sebuah jam di tanah dan ditanya bagaimana jam itu berada di tempat tersebut, saya tentu tidak akan memberikan jawaban yang sama, yakni bahwa jam itu mungkin telah berada di sana sejak dahulu kala.”
Bagi Paley, keteraturan bagian-bagian jam menunjukkan adanya perancang. Shermer kemudian menghubungkan pandangan tersebut dengan tokoh Dr. Pangloss dalam novel Candide karya Voltaire. Pangloss mewakili pemikiran bahwa segala sesuatu telah diatur untuk tujuan terbaik sehingga dunia yang ada merupakan dunia terbaik yang mungkin. Voltaire justru menggunakan tokoh tersebut untuk memperlihatkan kelemahan cara berpikir yang menganggap bahwa segala sesuatu dalam kenyataan pasti memiliki tujuan terbaik. Shermer menegaskan bahwa alam tidak selalu tersusun secara sempurna. Dunia yang kita miliki merupakan dunia yang dipengaruhi berbagai keadaan, kebetulan, dan ketidaksempurnaan.
Persoalannya, menurut Shermer, bukan semata-mata mengapa manusia memiliki harapan, melainkan bagaimana harapan tersebut dapat mempengaruhi penilaian terhadap bukti. Ia menjelaskan bahwa harapan akan kehidupan yang lebih baik merupakan sumber berbagai keyakinan, termasuk agama, mitos, takhayul, dan kepercayaan Zaman Baru atau New Age. Namun, pengaruh harapan tidak berhenti pada ranah keagamaan. Ilmuwan juga merupakan manusia yang mempunyai keinginan, kepercayaan, dan harapan. Oleh sebab itu, kegiatan ilmiah tidak secara otomatis terbebas dari kecenderungan manusia untuk mencari pembenaran atas sesuatu yang ingin dipercayainya.
Shermer menggunakan Frank Tipler, seorang fisikawan yang mengembangkan gagasan mengenai keabadian melalui kosmologi, sebagai contoh untuk menjelaskan persoalan tersebut. Dalam bukunya The Physics of Immortality, Tipler berusaha menunjukkan bahwa manusia dapat dibangkitkan kembali pada masa depan melalui kemampuan komputasi superkomputer. Bersama gagasan yang dikemukakan John Barrow dalam The Anthropic Cosmological Principle, pemikiran Tipler berusaha menghubungkan kosmologi modern dengan keberadaan perancang cerdas dan gagasan keagamaan mengenai kebangkitan. Bagi Shermer, upaya tersebut memperlihatkan bagaimana harapan akan kehidupan setelah kematian dapat mempengaruhi penafsiran atas teori-teori ilmiah.
Shermer membandingkan Tipler dengan Wallace dan Paley karena ketiganya, dalam pandangannya, memperlihatkan kecenderungan untuk mencari keteraturan dan tujuan akhir dalam alam semesta. Tipler menganggap perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat membawa manusia menuju keadaan yang lebih baik. Shermer juga menguraikan latar belakang Tipler yang sejak kecil terpengaruh oleh gagasan kemajuan teknologi tanpa batas. Pengalaman dan keyakinan tersebut, menurut uraian Shermer, membantu menjelaskan mengapa Tipler berusaha membangun hubungan antara fisika, Tuhan, dan keabadian.
Pembahasan Shermer kemudian beralih pada penelitian Frank Sulloway mengenai hubungan urutan kelahiran dengan penerimaan terhadap gagasan ilmiah yang baru. Berdasarkan analisis terhadap berbagai kontroversi ilmiah sepanjang sejarah, Sulloway menemukan bahwa anak yang lahir belakangan dalam keluarga cenderung lebih terbuka terhadap gagasan revolusioner dibandingkan anak sulung. Dalam penelitian yang dikutip Shermer, kemungkinan menerima gagasan revolusioner tercatat 3,1 kali lebih besar pada anak yang lahir belakangan, sedangkan untuk revolusi yang lebih radikal angkanya mencapai 4,7 kali.
Sulloway menjelaskan kecenderungan tersebut melalui perbedaan pengalaman dalam keluarga. Anak sulung biasanya memperoleh perhatian lebih besar dari orang tua dan memikul tanggung jawab yang lebih banyak, termasuk terhadap adik-adiknya. Keadaan tersebut dapat mendorong mereka untuk lebih menghargai otoritas dan mempertahankan keteraturan. Sebaliknya, anak yang lahir belakangan cenderung memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan pendekatan yang berbeda. Shermer menekankan bahwa urutan kelahiran bukanlah satu-satunya faktor penentu. Faktor tersebut dipahami sebagai keadaan awal yang dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian dan keterbukaan seseorang terhadap perubahan.
Dalam konteks Tipler, Shermer menilai bahwa teori yang diajukannya justru mempertahankan pandangan dunia yang hierarkis dan teratur, meskipun disampaikan melalui fisika modern. Shermer mengutip pernyataan Tipler tentang pendekatan yang digunakannya: “My theory is very conservative from the physics point of view.” Terjemahannya: “Teori saya sangat konservatif dari sudut pandang fisika.”
Bagi Shermer, persoalan utamanya bukan sekadar apakah suatu teori menggunakan persamaan fisika yang sudah dikenal, melainkan apakah kesimpulan yang diajukan benar-benar didukung bukti empiris. Ia menilai bahwa Tipler berangkat dari asumsi tentang Tuhan dan keabadian, kemudian menggunakan kerangka kosmologi untuk menyusun penjelasan yang mengarah kembali pada asumsi tersebut. Dengan demikian, Shermer mempertanyakan apakah teori itu sungguh-sungguh membuktikan kesimpulannya atau justru memasukkan keyakinan yang telah dimiliki ke dalam penafsiran ilmiah.
Shermer juga mempersoalkan penggunaan analogi untuk menghubungkan fisika modern dengan ajaran keagamaan. Ia membandingkan pendekatan Tipler dengan Fritjof Capra, yang dalam The Tao of Physics berusaha menunjukkan kesamaan antara fisika modern dan mistisisme Timur. Menurut Shermer, kemiripan antara dua gagasan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa keduanya menjelaskan kenyataan yang sama. Kesamaan tersebut dapat muncul karena manusia memiliki kecenderungan untuk menemukan pola dan hubungan di antara berbagai hal, terutama ketika mereka memang ingin menemukan hubungan itu.
Kritik Shermer terhadap gagasan keabadian Tipler juga mencakup persoalan ingatan dan identitas manusia. Tipler membayangkan bahwa superkomputer pada masa depan dapat merekonstruksi manusia beserta ingatannya. Shermer mempertanyakan apakah rekonstruksi semacam itu benar-benar dapat menghasilkan individu yang sama. Ingatan manusia berubah seiring pengalaman, emosi, dan peristiwa yang terjadi kemudian. Selain itu, kehidupan seseorang tidak hanya terbentuk dari materi biologis dan ingatan, tetapi juga dari interaksi dengan orang lain, lingkungan, serta rangkaian peristiwa sejarah yang tidak terhitung jumlahnya. Karena itu, Shermer meragukan apakah seluruh kompleksitas tersebut dapat direkonstruksi secara utuh oleh suatu sistem komputasi.
Dari pembahasan mengenai Tipler, Shermer menunjukkan bahwa keinginan untuk memperoleh kepastian tentang masa depan dan kehidupan setelah kematian dapat mendorong manusia mengajukan kesimpulan yang melampaui bukti yang tersedia. Namun, ia tidak menganggap harapan sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan. Pada akhir bab tersebut, Shermer menggunakan gagasan Voltaire bahwa manusia tetap perlu mengerjakan kebun mereka sendiri. Baginya, manusia tidak mungkin mengetahui seluruh rangkaian sebab, keadaan awal, dan peristiwa yang membentuk sejarah. Ketidaktahuan terhadap keseluruhan rangkaian tersebut justru menyisakan ruang bagi kebebasan manusia. Harapan, dengan demikian, tidak harus bergantung pada kepastian mengenai keabadian atau rekonstruksi kehidupan melalui teknologi masa depan.
Pada bagian berikutnya, Shermer secara langsung mengajukan pertanyaan mengapa manusia mempercayai hal-hal yang dianggapnya ganjil atau tidak masuk akal. Ia membuka pembahasannya dengan pengalaman berjalan tanpa alas kaki di atas bara panas dalam sebuah program televisi pendidikan sains. Pengalaman itu digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu kejadian yang tampak luar biasa tidak selalu membutuhkan penjelasan paranormal. Menurut penjelasan fisikawan Bernard Leikind yang dikutip Shermer, bara panas tidak menghantarkan panas secepat bahan lain, sehingga seseorang dapat melintasinya dengan cepat tanpa mengalami luka bakar, selama kondisi tertentu terpenuhi.
Pengalaman tersebut menjadi dasar bagi Shermer untuk membedakan kejadian yang tampak aneh dari penjelasan yang diberikan terhadap kejadian itu. Ia menolak anggapan bahwa kemampuan berjalan di atas bara membuktikan kekuatan pikiran atau keberhasilan suatu metode pengembangan diri. Fenomena itu dapat dijelaskan melalui sifat fisik bahan dan perpindahan panas. Oleh karena itu, Shermer menjadikan bukti ilmiah sebagai salah satu ukuran utama untuk menilai klaim yang dianggap luar biasa.
Ia kemudian menguraikan sejumlah contoh kepercayaan yang dipasarkan kepada masyarakat, mulai dari layanan paranormal hingga perangkat yang diklaim mampu memperluas kemampuan otak. Menurut Shermer, persoalannya bukan sekadar bahwa klaim tersebut terdengar ganjil, melainkan apakah tersedia bukti yang memadai untuk mendukungnya. Ketika sebuah alat dikatakan mampu menyembuhkan kerusakan otak, misalnya, klaim itu seharusnya diperiksa berdasarkan bukti, bukan diterima hanya karena disampaikan dengan istilah teknis atau penampilan yang meyakinkan.
Shermer mengakui bahwa terdapat berbagai penjelasan mengenai maraknya kepercayaan semacam itu, seperti kurangnya pendidikan, lemahnya kemampuan berpikir kritis, ketakutan terhadap sains, pengaruh media, dan ketidaktahuan. Namun, menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup dijelaskan hanya melalui faktor pendidikan dan lingkungan sosial. Untuk memahami mengapa manusia mempercayai hal-hal yang tidak didukung bukti, perlu diperhatikan pula kebutuhan psikologis dan kecenderungan yang mendasari cara berpikir manusia.
Shermer menyebut credo consolans sebagai salah satu alasan utama manusia mempercayai hal-hal yang ganjil: manusia sering kali mempercayainya karena ingin mempercayainya. Keyakinan tertentu memberikan rasa nyaman, penghiburan, dan harapan. Ia mengutip Martin Gardner, seorang tokoh skeptisisme modern yang tetap mengakui keyakinan teistiknya, untuk memperlihatkan bahwa bahkan orang yang sangat kritis terhadap klaim paranormal dapat mempertahankan keyakinan metafisik berdasarkan kebutuhan emosional. Gardner menjelaskan: “Fideism refers to believing something on the basis of faith, or emotional reasons rather than intellectual reasons.” Terjemahannya: “Fideisme merujuk pada tindakan mempercayai sesuatu berdasarkan iman atau alasan emosional, bukan alasan intelektual.”
Gardner, sebagaimana dikutip Shermer, mengakui bahwa ia tidak menganggap argumen mengenai keberadaan Tuhan atau keabadian jiwa dapat dibuktikan secara meyakinkan. Ia bahkan menilai bahwa sejumlah argumen yang lebih kuat berada di pihak kaum ateis. Meskipun demikian, ia berpendapat bahwa seseorang dapat mengambil lompatan iman apabila keyakinan metafisik tersebut memberikan kepuasan emosional dan tidak secara tegas bertentangan dengan sains atau penalaran logis. Bagi Shermer, contoh ini menunjukkan bahwa keyakinan tidak selalu terbentuk melalui pertimbangan intelektual semata.
Alasan berikutnya adalah pemenuhan kebutuhan secara langsung atau immediate gratification. Shermer menggunakan layanan telepon paranormal sebagai contoh. Orang-orang menghubungi layanan tersebut karena persoalan cinta, kesehatan, uang, atau karier. Dengan teknik cold reading, seorang paranormal dapat memulai percakapan dengan pernyataan umum yang sesuai dengan pengalaman banyak orang, lalu mempersempitnya berdasarkan tanggapan penelepon. Pernyataan yang tepat akan diingat, sedangkan kesalahan cenderung dilupakan. Keinginan agar ramalan itu benar turut memperkuat keyakinan penelepon.
Menurut Shermer, layanan seperti itu juga memberikan sesuatu yang sulit diperoleh secara instan melalui pendekatan lain: kesempatan untuk berbicara dengan seseorang yang bersedia mendengarkan. Sementara bantuan psikologis yang lebih mendalam dapat memerlukan waktu dan proses panjang, layanan paranormal menawarkan jawaban yang cepat. Dengan demikian, daya tariknya tidak hanya terletak pada klaim kemampuan khusus, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan emosional yang segera dirasakan.
Shermer selanjutnya mengemukakan kesederhanaan sebagai faktor yang mendorong kepercayaan terhadap hal-hal ganjil. Kehidupan dipenuhi peristiwa yang kompleks, tidak pasti, dan terkadang tampak terjadi secara acak. Penjelasan ilmiah sering kali menuntut pengetahuan, usaha, dan waktu untuk dipahami. Sebaliknya, takhayul, kepercayaan terhadap nasib, dan penjelasan supernatural dapat memberikan jawaban yang lebih sederhana. Ia menggambarkan kecenderungan tersebut melalui eksperimen Harry Edwards, yang secara jenaka menghubungkan kotoran ayam peliharaannya dengan keberuntungan dan kemudian menawarkan produk yang diklaim membawa keberuntungan. Eksperimen itu menunjukkan bagaimana suatu hubungan yang tampak meyakinkan dapat dibangun dari kejadian yang sebenarnya tidak membuktikan adanya hubungan sebab-akibat.
Selain penghiburan, kepuasan langsung, dan kesederhanaan, Shermer menyoroti kebutuhan manusia akan moralitas dan makna hidup. Ia berpendapat bahwa penjelasan ilmiah dan sistem moral sekuler belum memberikan kepuasan yang dirasakan cukup oleh banyak orang. Pertanyaan mengenai alasan untuk berbuat baik, dasar etika, dan tujuan hidup tetap menjadi persoalan penting. Sementara itu, agama, mitos, sihir, takhayul, dan pseudosains menawarkan jawaban yang mudah dipahami serta memberikan makna bagi pengalaman manusia. Shermer mengakui bahwa sains sering dipersepsikan sebagai penjelasan yang dingin tentang alam semesta yang tidak memiliki tujuan, sedangkan keyakinan tertentu memberikan kerangka moral dan makna yang lebih langsung.
Dalam pengalamannya mengelola Skeptic, Shermer juga menemukan bahwa keberadaan gerakan skeptis dapat menimbulkan reaksi keras, termasuk dari orang-orang yang menganggapnya sebagai ancaman terhadap keyakinan keagamaan. Ia menghubungkan reaksi tersebut dengan kebutuhan manusia untuk mempertahankan sumber moralitas dan makna yang telah mereka yakini. Karena itu, ia mengusulkan bahwa salah satu hal yang dapat dilakukan oleh para skeptikus, ilmuwan, filsuf, dan humanis adalah mengembangkan sistem moralitas dan makna hidup yang dapat memberikan kepuasan serta menjawab kebutuhan manusia.
Pada penutup bagian tersebut, Shermer kembali pada gagasan hope springs eternal, yakni bahwa harapan selalu tumbuh dalam diri manusia. Menurutnya, manusia pada dasarnya berorientasi ke masa depan dan terus mencari kebahagiaan serta kepuasan yang lebih besar. Namun, kecenderungan tersebut juga dapat membuat manusia menerima janji-janji yang tidak realistis atau mempertahankan keyakinan yang membatasi kehidupan orang lain melalui intoleransi dan ketidaktahuan. Bahkan, ketika terlalu terpusat pada kehidupan yang akan datang, manusia dapat kehilangan perhatian terhadap kehidupan yang sedang dijalani.
Shermer menutup pembahasannya dengan menempatkan harapan bukan hanya pada janji kehidupan setelah kematian, melainkan juga pada kemampuan manusia memperbaiki kehidupan di dunia. Ia menyatakan harapannya bahwa kecerdasan yang disertai belas kasih dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan, bahwa sejarah dapat terus bergerak menuju kebebasan dan penerimaan yang lebih luas, serta bahwa penalaran, sains, cinta, dan empati dapat membantu manusia memahami alam semesta, dunia, dan dirinya sendiri.
Pada awal bab berikutnya, Shermer mengembangkan persoalan tersebut melalui pertanyaan mengapa orang-orang cerdas juga dapat mempercayai hal-hal yang ganjil. Ia menceritakan percakapannya dengan psikolog Robert Sternberg, yang mengingatkan bahwa pertanyaan penting bukan hanya mengapa orang lain mempercayai sesuatu yang tidak masuk akal, tetapi juga mengapa kita sendiri dapat melakukan hal serupa. Pertanyaan itu menggeser perhatian dari keyakinan yang dianggap aneh pada orang lain menuju kemungkinan bahwa penilaian kita sendiri juga memiliki keterbatasan. Melalui rangkaian pembahasan tersebut, Shermer menunjukkan bahwa harapan, kebutuhan emosional, pencarian makna, dan kecenderungan manusia membentuk penjelasan dapat mempengaruhi keyakinan, bahkan ketika keyakinan tersebut dikemukakan oleh orang-orang yang berpendidikan dan memiliki kemampuan intelektual tinggi.
