Pandji Pragiwaksono Sebut Komika Harus Setor Materi ke Polisi
“Kalaupun ada bukan guilt (red, rasa bersalah), tapi memang ada rasa enggak enak jatuhnya. Karena gara-gara Mens Rea rame, sekarang sejumlah komedian harus nyetor materi stand up kalau mau manggung,” ujar Pandji.
BERITA-SOSIALBERITA-POLITIK HUKUM
Edi.
9/21/20263 min read


Komika Pandji Pragiwaksono mengungkap adanya perubahan situasi yang dihadapi sejumlah komika setelah polemik pertunjukan Mens Rea. Menurut Pandji, sejumlah komika di beberapa daerah kini harus menyetorkan materi stand-up comedy kepada polisi sebelum dapat tampil untuk mendapatkan izin pertunjukan.
Hal itu disampaikan Pandji dalam wawancara bersama dua host kanal YouTube Big Alpha yang diunggah pada 21 September 2026. Pernyataan tersebut muncul ketika pembawa acara menanyakan dampak yang dirasakan Pandji setelah menghadapi berbagai persoalan hukum terkait materi komedinya.
Pandji mengatakan dirinya tidak merasa bersalah atas persoalan hukum yang dihadapinya karena ia merasa tidak melakukan perbuatan yang menjadi dasar tuntutan tersebut. Namun, ia mengaku ada dampak lain yang justru dirasakan oleh komika lain.
“Kalaupun ada bukan guilt (red, rasa bersalah), tapi memang ada rasa enggak enak jatuhnya. Karena gara-gara Mens Rea rame, sekarang sejumlah komedian harus nyetor materi stand up kalau mau manggung,” ujar Pandji.
Salah satu host kemudian meminta penjelasan mengenai pihak yang menerima materi tersebut. “Nyetor ke mana?” tanya host. “Polisi,” jawab Pandji.
Menurut Pandji, penyetoran materi tersebut berkaitan dengan proses perizinan pertunjukan. Ia menyebut praktik itu terjadi di beberapa Kepolisian Daerah (Polda), sehingga komika perlu menyerahkan materi yang akan dibawakan sebelum pertunjukan berlangsung.
Pandji juga mengatakan dirinya pernah mengalami prosedur serupa ketika hendak tampil di Samarinda. “Jadi sejak Mens Rea semua komika harus setor,” katanya. Ia kemudian menjelaskan bahwa pengalaman tersebut tidak hanya berupa penyerahan materi, tetapi juga melibatkan pengawasan terhadap isi materi yang akan dibawakan.
“Mereka akan melakukan supervisi dan editing. Kalau ini jangan, ini boleh,” ujar Pandji.
Ia mengatakan pada saat tampil di Samarinda, proses tersebut berjalan tanpa persoalan berarti. Pandji bahkan menduga terdapat polisi yang ikut menyaksikan pertunjukan untuk melakukan pemantauan. Namun, ia menegaskan bahwa dalam pengalamannya saat itu pertunjukan tetap berlangsung dengan aman.
Di sisi lain, Pandji menyebut dirinya mengetahui adanya komedian lain yang mendapat perlakuan berbeda terhadap materi yang hendak dibawakan. Menurut dia, terdapat komedian yang diminta menghapus atau mencabut materi tertentu.
“Ada beberapa komedian yang lapornya disuruh cabut materi tentang ini enggak boleh, ini enggak boleh, disuruh cabut,” kata Pandji.
Pengalaman tersebut disampaikan Pandji ketika pembicaraan dalam podcast beralih pada persoalan ketersinggungan dalam komedi. Ia sebelumnya juga menceritakan pengalamannya menghadapi laporan terkait materi Mens Rea serta persoalan lain yang pernah muncul akibat materi stand-up yang dibawakannya.
Pandji mengatakan pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa persoalan ketersinggungan tidak selalu dapat diperkirakan ketika sebuah materi dibuat. Karena itu, ia mengaku tidak lagi terlalu memikirkan apakah sebuah materi akan membuat seseorang tersinggung atau tidak.
Ia mencontohkan salah satu pertunjukannya yang menurutnya merupakan materi paling personal dan relatif aman karena banyak membicarakan pengalaman dirinya sendiri. Namun, pertunjukan tersebut tetap berujung pada persoalan hukum terkait materi tentang kucing.
Dari berbagai pengalaman tersebut, Pandji mengatakan dirinya memilih untuk tetap membuka ruang dialog apabila ada pihak yang merasa tersinggung. Menurutnya, persoalan yang muncul dari materi komedi tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan.
Pandji juga mengaitkan sikap tersebut dengan kasus-kasus yang pernah dihadapinya. Ia mengatakan pernah bertemu dengan pihak yang melaporkannya dalam perkara dugaan penistaan agama. Pertemuan tersebut, menurut Pandji, berlangsung dalam suasana dialog dan membuat hubungan personal dengan pihak-pihak tersebut tetap baik meskipun proses hukum masih berjalan.
Dalam pembicaraan yang sama, Pandji menegaskan bahwa isu agama memang merupakan bagian dari materi stand-up yang dibawakannya sejak awal. Ketika ditanya mengapa ia sering membicarakan Islam dalam materi komedinya, Pandji menjawab, “Ya karena Islam adalah bagian dari diri gua.”
Menurut Pandji, dirinya justru ingin menunjukkan bahwa stand-up comedy dan Islam tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang bertentangan. Ia menyebut pembahasan mengenai agama telah muncul sejak spesial stand-up pertamanya dan melihat komedi sebagai salah satu medium yang dapat digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai tertentu.
Dengan demikian, pernyataan Pandji dalam wawancara tersebut tidak hanya membahas persoalan hukum yang dihadapinya secara pribadi, tetapi juga mengungkap dampak yang menurutnya dirasakan oleh sebagian komika setelah polemik Mens Rea, yakni adanya kewajiban di sejumlah daerah untuk menyerahkan materi stand-up kepada polisi sebelum pertunjukan guna memperoleh izin, termasuk kemungkinan materi tersebut disupervisi, diedit, atau diminta untuk dicabut.
Sebagai konteks, pemberitaan sebelumnya juga mencatat bahwa Pandji memang menghadapi laporan kepolisian terkait materi Mens Rea pada awal 2026. Namun, informasi mengenai kewajiban sejumlah komika menyetorkan materi ke polisi dalam naskah di atas berasal dari pernyataan Pandji dalam wawancara Big Alpha.
