Pasar Modal Tak Takut Kabar Buruk, tetapi Tak Siap Hadapi Ketidakpastian

“Pasar modal tidak takut dengan bad news. Tapi pasar modal tidak siap dengan uncertainty,” kata Tito

BERITA-EKONOMI

Edi.

10/28/20263 min read

Pasar modal tidak hanya bereaksi terhadap kondisi ekonomi dan kinerja perusahaan, tetapi juga terhadap persepsi serta kepastian arah kebijakan. Ketidakjelasan informasi dan pernyataan yang berubah-ubah dapat membuat investor menahan keputusan investasi, bahkan ketika fundamental ekonomi masih menunjukkan prospek positif.

Praktisi pasar modal Tito Sulistio menegaskan bahwa ketidakpastian merupakan salah satu persoalan yang paling ditakuti pasar modal. Hal tersebut disampaikannya dalam perbincangan bersama Guru besar manajemen Rhenald Kasali di kanal YouTube Rhenald Kasali pada video berjudul “IHSG ANJLOK LAGI, BEGINI BOCORAN MANTAN ORDAL BURSA EFEK INDONESIA”.

“Pasar modal tidak takut dengan bad news. Tapi pasar modal tidak siap dengan uncertainty,” kata Tito dalam percakapan tersebut.

Menurut Rhenald, persoalan muncul ketika pelaku pasar tidak memperoleh kejelasan mengenai arah kebijakan dan informasi yang berkembang di ruang publik. Ia mencontohkan polemik mengenai Morgan Stanley Capital International (MSCI), termasuk pertanyaan apakah lembaga penyedia indeks tersebut benar-benar mengancam pasar modal Indonesia atau apakah Indonesia akan keluar dari indeks yang menjadi acuan investor global.

Rhenald menilai pernyataan yang berbeda dari sejumlah tokoh mengenai persoalan tersebut berpotensi menambah ketidakpastian. Investor, menurut dia, membutuhkan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan langkah apa yang akan diambil pemerintah maupun otoritas pasar modal.

Pembahasan itu mengemuka ketika Tito menjelaskan posisi MSCI dalam industri keuangan internasional. Tito menegaskan bahwa MSCI bukan regulator ataupun bursa efek, melainkan penyedia indeks dan tolok ukur investasi yang digunakan oleh berbagai lembaga keuangan.

Ia mengibaratkan peran MSCI dengan Michelin atau TripAdvisor yang memberikan penilaian sebagai referensi bagi masyarakat. Dalam konteks pasar modal, indeks MSCI menjadi salah satu acuan investor untuk menentukan alokasi investasinya.

Menurut Tito, perubahan klasifikasi atau bobot suatu negara dalam indeks dapat mempengaruhi aliran dana, terutama dari investor pasif yang mengikuti komposisi indeks tersebut. Karena itu, ia menilai persoalan utama Indonesia bukanlah melawan MSCI, melainkan memperkuat kualitas dan daya saing pasar modal nasional.

Tito juga menekankan pentingnya membangun basis investor domestik yang kuat, termasuk melalui pengembangan dana pensiun dan industri asuransi. Dengan dukungan investor institusional dalam negeri, pasar modal Indonesia diharapkan tidak terlalu rentan terhadap perubahan aliran dana global.

Namun, penguatan investor domestik tidak berarti Indonesia harus menutup diri dari pasar internasional. Tito justru menekankan pentingnya mempertahankan keterhubungan dengan pasar global melalui standar yang berlaku secara internasional.

“Bukan dengan melawan MSCI,” demikian inti penjelasan Tito mengenai langkah yang seharusnya ditempuh Indonesia. Menurut dia, pasar modal nasional perlu diperbesar dan diperkuat agar semakin diperhitungkan oleh investor internasional.

Dalam percakapan tersebut, Tito juga menyoroti perlunya meningkatkan jumlah perusahaan besar dan berkualitas yang tercatat di bursa. Ia mengusulkan agar perusahaan yang memanfaatkan sumber daya alam Indonesia maupun perusahaan dengan kapasitas pembiayaan besar didorong meningkatkan keterbukaan dan mempertimbangkan pencatatan saham di bursa.

Menurut Tito, penambahan perusahaan berkualitas dapat memperbesar kapitalisasi pasar sekaligus memperluas pilihan investasi bagi masyarakat. Ia menilai penguatan pasar modal bukan hanya tanggung jawab Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), tetapi membutuhkan dukungan pemerintah serta berbagai pemangku kepentingan.

Selain persoalan MSCI, pembicaraan keduanya juga menyinggung perdagangan semu atau coordinated trading. Tito menjelaskan bahwa transaksi jual beli saham yang dilakukan secara normal berbeda dari transaksi yang dikoordinasikan antar-pihak untuk menciptakan gambaran aktivitas perdagangan yang tidak mencerminkan kondisi pasar sebenarnya.

Ia menilai pengawasan terhadap praktik tersebut penting untuk menjaga integritas pasar modal. Namun, Tito juga mengingatkan agar penyampaian informasi mengenai perusahaan yang berpotensi menghadapi tindakan dari otoritas dilakukan dengan hati-hati, sehingga tidak menimbulkan ketidakpastian baru di kalangan investor.

Bagi Rhenald, persoalan tersebut kembali menegaskan pentingnya kejelasan informasi dan komunikasi kebijakan. Pasar modal, menurut dia, bukan hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, melainkan juga oleh persepsi terhadap arah kebijakan dan tingkat kepercayaan investor.

Dalam pembahasan berikutnya, Rhenald mengangkat istilah radical uncertainty untuk menggambarkan ketidakpastian yang semakin sulit diperkirakan. Situasi tersebut menjadi tantangan ketika informasi berkembang cepat, sementara pernyataan dan respons dari berbagai pihak justru menimbulkan pertanyaan baru.

Percakapan Rhenald dan Tito pada akhirnya mengarah pada satu persoalan mendasar: bagaimana membangun pasar modal Indonesia yang lebih besar, transparan, dan dipercaya. Penguatan fundamental ekonomi tetap penting, tetapi konsistensi kebijakan, kepastian regulasi, serta komunikasi yang jelas juga menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor.

Dengan demikian, tantangan Indonesia bukan sekadar merespons penilaian lembaga internasional, melainkan memastikan bahwa pasar modal nasional memiliki fondasi yang kuat untuk tumbuh dan mampu menghadapi dinamika global tanpa memperbesar ketidakpastian di dalam negeri.

kontak kami

inisiatifonline@outlook.co.id

+6288906160520

Dibangun pada 2025