Administrasi, Agama, Perang, dan Warisan Kekuasaan Marcus Aurelius

Keempat tulisan dalam “Marcus the Emperor” menggambarkan pemerintahan Marcus Aurelius melalui empat ranah utama. Werner Eck menunjukkan struktur administratif Kekaisaran Romawi yang bersifat berlapis dan tidak seragam, dengan kota-kota sebagai unit pemerintahan lokal serta gubernur dan pejabat kekaisaran sebagai penghubung antara wilayah provinsi dan pusat kekuasaan.

SUDUT PANDANG - POV

Arka C.G.

9/11/20269 min read

A marble bust of a man with a beard
A marble bust of a man with a beard

Bagian ketiga buku A Companion to Marcus Aurelius berjudul “Marcus the Emperor” dan membahas Marcus Aurelius dari sudut pandang pemerintahan kekaisaran. Empat tulisan di dalamnya menguraikan administrasi dan yurisdiksi kekaisaran, kehidupan keagamaan pada masa pemerintahannya, peperangan serta pemberontakan yang berlangsung selama masa kekuasaannya, dan keadaan Kekaisaran Romawi setelah kematiannya. Keempat tulisan tersebut masing-masing disusun oleh Werner Eck, Mark J. Edwards, Anthony R. Birley, dan Olivier Hekster.

Administrasi Kekaisaran dan Pelaksanaan Yurisdiksi

Werner Eck dalam “Administration and Jurisdiction in Rome and in the Provinces” memulai pembahasannya dengan struktur politik Kekaisaran Romawi. Kekaisaran merupakan satu kesatuan politik, tetapi tidak berarti seluruh wilayahnya diperintah dengan sistem administratif yang seragam. Menurut Eck, kehendak kaisar dan pejabat yang dikirim dari Roma berlaku di seluruh wilayah, tetapi penerapan kekuasaan tersebut berbeda-beda karena ukuran dan struktur wilayah kekaisaran sangat beragam.

Eck menjelaskan bahwa Roma tidak berusaha menciptakan suatu sistem pemerintahan yang seragam di seluruh wilayah. Banyak bentuk politik dan administratif yang telah ada sebelum penaklukan Romawi tetap dipertahankan, terutama pada tingkat pemerintahan lokal. Unit pemerintahan tersebut pada umumnya berupa kota, tetapi dalam beberapa wilayah juga berupa civitates atau komunitas suku.

Di wilayah Yunani bagian timur, kota-kota (polis) memiliki struktur yang berasal dari tradisi klasik dan Hellenistik. Unsur dasarnya terdiri atas majelis rakyat, dewan, dan magistrat. Namun, jumlah anggota dewan, metode pemilihan, serta masa jabatan berbeda antara satu kota dan kota lainnya. Di wilayah barat yang berbahasa Latin, struktur pemerintahan lokal secara bertahap lebih banyak mengikuti model Roma dan kota-kota Italia.

Pemerintahan kota memiliki tanggung jawab luas terhadap kebutuhan masyarakat. Tugas tersebut mencakup penyediaan makanan dan air, perkara hukum perdata dan perkara pidana ringan, pembangunan jalan, serta hubungan komunitas dengan dewa-dewa. Dewan menjadi lembaga penting dalam pengambilan keputusan, terutama berkaitan dengan keuangan publik, sedangkan magistrat menjalankan keputusan dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada dewan.

Struktur pemerintahan provinsi juga tidak seragam. Pada awal pemerintahan Marcus Aurelius terdapat 44 provinsi dalam Kekaisaran Romawi. Setiap provinsi memiliki gubernur yang dikirim dari Roma sebagai otoritas tertinggi, tetapi status dan kewenangan gubernur berbeda-beda. Sebagian provinsi berada di bawah legati Augusti pro praetore, sedangkan provinsi lainnya diperintah oleh proconsules.

Dalam praktiknya, gubernur memiliki kewenangan administratif sekaligus yudisial. Eck menegaskan bahwa pemerintahan Romawi tidak mengenal pemisahan kekuasaan sebagaimana konsep modern. Ia menulis “there was no ‘separation of powers’” atau “tidak ada ‘pemisahan kekuasaan’.”

Karena itu, administrasi dan yurisdiksi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jabatan seorang pejabat Romawi. Gubernur menangani perkara perdata dengan nilai tertentu serta perkara pidana yang berada di luar kewenangan pengadilan lokal. Hukuman berat seperti pembuangan, kehilangan status sosial, hukuman mati, atau kerja paksa di pertambangan berada dalam wilayah kewenangan pengadilan gubernur.

Dalam urusan fiskal terdapat perbedaan antara provinsi senatorial dan provinsi kekaisaran. Di provinsi senatorial, pengawasan pajak berada dalam lingkup tugas proconsul dan quaestor. Sementara itu, di provinsi kekaisaran, urusan keuangan ditangani oleh procurator dari kalangan equestrian yang ditunjuk langsung oleh kaisar. Mereka menangani berbagai jenis pajak serta properti kekaisaran.

Pada masa Marcus, sejumlah perubahan administratif terjadi karena keadaan militer dan keuangan. Jumlah provinsi yang diperintah pejabat equestrian berkurang ketika kebutuhan militer mengharuskan penempatan legiun di beberapa wilayah. Dacia juga kembali disatukan di bawah satu gubernur berpangkat konsuler. Dengan demikian, perubahan administratif berkaitan langsung dengan kebutuhan militer kekaisaran.

Di Italia, Marcus juga melakukan desentralisasi yurisdiksi. Sekitar tahun 165, ia mengangkat empat pejabat senator yang disebut iuridici. Mereka menangani yurisdiksi tertentu, termasuk pengangkatan wali bagi anak yatim. Kehadiran pejabat tersebut mengurangi kebutuhan masyarakat Italia untuk pergi ke Roma dalam perkara-perkara tertentu.

Meskipun terjadi pembagian tugas administratif, Roma tetap menjadi pusat pemerintahan. Kaisar, senat, dan sejumlah pejabat penting tetap berpusat di Roma. Di sisi lain, pemerintahan kekaisaran tidak mungkin dijalankan oleh kaisar seorang diri. Berbagai pejabat menjalankan keputusan administratif atas nama kekuasaan kekaisaran. Eck menggambarkan struktur tersebut sebagai pemerintahan yang berlangsung melalui kaisar dan para pejabatnya di Roma, Italia, serta provinsi-provinsi.

Kehidupan Keagamaan pada Masa Marcus Aurelius

Subjudul “Religion in the Age of Marcus Aurelius”, ditulis Mark J. Edwards. Ia menggambarkan masa Marcus Aurelius sebagai periode yang menyediakan bahan yang sangat beragam untuk mempelajari agama-agama di dunia Romawi. Di satu sisi terdapat kesinambungan dengan praktik keagamaan sebelumnya, sedangkan di sisi lain terdapat perkembangan dan munculnya bentuk-bentuk keagamaan yang memperoleh perhatian lebih besar.

Edwards menjelaskan bahwa agama-agama tradisional Romawi tetap memperoleh dukungan pada masa Antoninus. Kultus dewa-dewa tradisional, serta beberapa kultus yang berasal dari luar tradisi Romawi seperti Cybele dan Dionysus, tetap mendapatkan subsidi. Di berbagai provinsi juga didirikan altar bagi Roma dan genius kaisar. Pada saat yang sama, masyarakat lokal tetap memberikan dukungan terhadap dewa-dewa tradisional mereka sendiri.

Edwards kemudian membahas agama para filsuf. Dalam buku Meditations, Marcus mengakui keberadaan para dewa. Ia menggunakan istilah “God” dan “gods” secara bergantian, menerima praktik doa, dan menganggap bahwa para dewa telah mengatur segala sesuatu demi kebaikan. Para dewa juga digambarkan membantu manusia mengendalikan nafsu, tetapi tidak memaksa kehendak manusia.

Selain agama filsafat, Edwards membahas agama-agama etnis, termasuk kultus Isis, Cybele, serta tradisi Yahudi. Kultus Isis berkembang melalui praktik-praktik misteri dan memiliki tempat dalam kehidupan keagamaan dunia Romawi. Sementara itu, kehidupan Yahudi pada periode tersebut berkaitan dengan pemeliharaan hukum, festival, dan tradisi rabinik. Pada akhir abad kedua, tradisi lisan Yahudi mulai dihimpun dalam Mishnah.

Kelompok lain yang mendapat perhatian ialah agama yang berkembang di lingkungan militer. Edwards menjelaskan bahwa Mithraisme terutama berkembang di titik-titik benteng dan jalur suplai. Tempat pemujaannya, Mithraeum, biasanya dibuat menyerupai gua dan dihiasi dengan gambaran kosmologis, termasuk planet, zodiak, serta adegan Mithras membunuh banteng. Masa pemerintahan Marcus Aurelius disebut sebagai periode ketika kultus Mithras mencapai perkembangan penting.

Kekristenan merupakan bagian penting lainnya dari pembahasan Edwards. Pada akhir abad kedua, struktur episkopal telah berkembang dalam berbagai wilayah. Kehidupan komunitas Kristen mencakup eucharist, pembacaan tulisan para rasul, baptisan, serta pelayanan para uskup, presbiter, dan diaken.

Hubungan antara komunitas Kristen dan masyarakat Romawi juga dibahas melalui persoalan penganiayaan. Edwards mencatat bahwa pada masa Marcus terdapat proses hukum terhadap orang Kristen, termasuk kasus Justin pada 165 dan penganiayaan besar di Lyon pada 177. Dalam kasus Lyon, gubernur provinsi memainkan peran penting dalam proses interogasi dan penghukuman.

Para apologis Kristen pada masa itu berusaha membela komunitas mereka dengan menunjukkan bahwa iman Kristen memiliki dasar rasional. First Apology Justin Martyr ditujukan kepada Marcus Aurelius dan Lucius Verus. Argumentasinya antara lain menyatakan bahwa orang Kristen bukan ateis, orang bodoh, atau pengkhianat, serta menempatkan Logos sebagai pusat pemahaman Kristen mengenai Allah.

Pada bagian akhir, Edwards menyatakan bahwa jumlah penganut masing-masing agama pada masa tersebut tidak dapat ditentukan secara pasti. Bukti yang tersedia tidak memungkinkan perhitungan yang akurat mengenai pertumbuhan komunitas keagamaan. Namun, masa Marcus merupakan periode ketika Gereja telah cukup terdengar keberadaannya sehingga menimbulkan kontroversi, meskipun masih berada dalam posisi yang rentan terhadap tekanan dan penganiayaan.

Perang dan Pemberontakan

Anthony R. Birley dalam subjudul “The Wars and Revolts” menguraikan rangkaian konflik yang berlangsung selama pemerintahan Marcus Aurelius. Perang Parthia menjadi salah satu konflik utama pada awal pemerintahannya. Setelah kematian Antoninus Pius, Vologaeses III dari Parthia memasuki Armenia dan mengganti rajanya dengan kandidat yang didukung Parthia. Pasukan Romawi yang dipimpin Marcus Sedatius Severianus bergerak ke wilayah tersebut, tetapi mengalami kekalahan.

Untuk menghadapi perang tersebut, Lucius Verus dikirim ke Timur. Pasukan Romawi kemudian berhasil merebut Artaxata pada 163. Konflik berlanjut ke Osrhoene dan Mesopotamia. Pada 165, pasukan Romawi merebut Nisibis dan bergerak menuju Dura-Europos, Seleuceia, serta Ctesiphon. Ctesiphon berhasil direbut dan istana Vologaeses dibakar. Keberhasilan militer tersebut menghasilkan gelar Parthicus maximus bagi Lucius dan sejumlah gelar kemenangan bagi kedua kaisar.

Perang Parthia kemudian diikuti persoalan lain. Pasukan yang kembali dari Timur membawa epidemi yang kemudian dikenal sebagai Antonine plague. Pada saat yang sama, ancaman di kawasan Danube semakin meningkat. Birley mencatat bahwa ketika perang Parthia masih berlangsung, perang Marcomanni mulai berkembang. Sumber Historia Augusta menggambarkan situasi tersebut sebagai konflik yang melibatkan banyak bangsa.

Perang di kawasan Danube berlangsung dalam waktu panjang. Pada tahun 166 atau tahun 167, kelompok Langobardi dan Obii memasuki Pannonia. Kemudian sejumlah kelompok lain datang untuk meminta perdamaian. Situasi semakin kompleks karena tekanan dari kelompok-kelompok lain di luar perbatasan Romawi. Pada tahun 168, Marcus dan Lucius akhirnya berangkat untuk menjalankan ekspedisi ke wilayah utara.

Kematian Lucius Verus pada 169 membuat Marcus harus menangani peperangan seorang diri. Pada saat yang sama, perang dan epidemi menciptakan persoalan keuangan serta kekurangan tenaga militer. Marcus merespons krisis keuangan dengan melelang harta benda istana daripada menaikkan pajak. Kekurangan personel militer kemudian mendorong pembentukan unit-unit baru dan perekrutan kelompok-kelompok yang sebelumnya tidak menjadi bagian reguler tentara.

Invasi ke Italia juga terjadi. Birley mencatat bahwa pada sekitar tahun 170, Marcomanni dan Quadi menembus wilayah Italia dan mengepung Aquileia. Peristiwa tersebut merupakan invasi asing pertama ke Italia dalam hampir tiga abad.

Marcus kemudian mengkonsentrasikan operasi militernya di kawasan Danube. Pada 171 ia menerima berbagai delegasi dari kelompok-kelompok di luar perbatasan. Sebagian kelompok meminta perdamaian, sebagian menawarkan penyerahan diri, sementara kelompok lainnya ditempatkan di wilayah berbeda atau direkrut ke dalam tentara Romawi.

Pada tahun 175, perang terganggu oleh pemberontakan Avidius Cassius di Timur. Cassius, yang sebelumnya memainkan peran penting dalam Perang Parthia, memproklamasikan dirinya sebagai kaisar. Marcus menghentikan operasi di Danube dan bergerak menuju Timur, tetapi sebelum mencapai wilayah tersebut Cassius telah dibunuh oleh salah satu pengikutnya.

Perang Danube kembali berlangsung pada tahun 178-180. Marcus berangkat lagi ke front bersama Commodus. Pada tahun 179, kemenangan militer menghasilkan aklamasi kesepuluh dan terakhir bagi Marcus sebagai imperator. Birley juga membahas kemungkinan rencana untuk membentuk provinsi baru di utara Danube. Bukti arkeologis berupa sejumlah situs militer Romawi di wilayah Marcomanni dan Quadi digunakan dalam pembahasan mengenai kemungkinan adanya wilayah yang sedang dipersiapkan menjadi provinsi.

Dalam kaitannya dengan pengambilan keputusan, Birley mengutip Meditations yang menggambarkan Marcus sebagai orang yang bersedia mengubah keputusan apabila terbukti keliru, “I will gladly amend it, I seek the truth” atau “Saya akan dengan senang hati memperbaikinya, saya mencari kebenaran.” kutip Birley.

Sumber Historia Augusta juga menyatakan bahwa sebelum mengambil tindakan Marcus berkonsultasi dengan tokoh-tokoh terkemuka, baik mengenai perang maupun urusan sipil. Dengan demikian, pengambilan keputusan dalam pemerintahan dan peperangan digambarkan melibatkan nasihat dari lingkungan politik dan militernya.

Kekaisaran Setelah Kematian Marcus Aurelius

Subjudul terakhir dalam bagian Marcus the Emperor ini, “The Roman Empire after His Death”, ditulis Olivier Hekster. Marcus Aurelius meninggal pada 17 Maret tahun 180. Pada saat itu, suksesi Commodus telah dipersiapkan sebelumnya. Commodus telah memperoleh gelar Augustus pada 176 dan tribunicia potestas pada tahun yang sama. Pada tahun 177, ketika berusia 15 tahun, ia juga menjadi konsul.

Marcus bermaksud agar Commodus menjadi penerusnya. Herodian menggambarkan status Commodus sebagai anak yang lahir ketika ayahnya telah menjadi kaisar. Dalam gambaran tersebut, identitas kekaisaran telah melekat pada Commodus sejak kelahirannya. Pada saat menjelang kematian Marcus, ia juga digambarkan menyerahkan putranya kepada para tentara dan meminta mereka membimbingnya.

Setelah menjadi kaisar, Commodus mengakhiri perang dengan Marcomanni dan Quadi. Keputusan tersebut dalam sumber-sumber kuno sering digambarkan sebagai tindakan yang meninggalkan hasil perang yang hampir diselesaikan oleh Marcus. Namun, Hekster menunjukkan bahwa kondisi perjanjian yang dibuat dengan kelompok-kelompok tersebut juga memberikan keuntungan bagi Roma. Perjanjian itu antara lain mencakup perekrutan hampir 15.000 tentara dari Quadi dan Marcomanni, pembayaran upeti gandum, penyerahan senjata dan kapal, serta kewajiban untuk menjauh dari Danube.

Hekster juga menguraikan kondisi kekaisaran pada masa transisi tersebut. Perang membutuhkan biaya besar, sedangkan perluasan wilayah membutuhkan pembangunan jalan, bangunan, dan institusi politik. Keadaan ini berlangsung ketika kekaisaran telah mengalami dampak epidemi yang mengurangi tenaga manusia dan aktivitas ekonomi. Karena itu, kelanjutan perang membawa persoalan tersendiri bagi pemerintahan baru.

Pada masa Commodus, hubungan antara kaisar dan senat mengalami ketegangan. Setelah beberapa tahun, tokoh-tokoh seperti Sextus Tigidius Perennis dan Marcus Aurelius Cleander memperoleh pengaruh besar di sekitar kaisar. Cleander, seorang bekas budak yang telah dibebaskan oleh Marcus, kemudian menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pemerintahan Commodus.

Ketegangan tersebut berlanjut bersama berbagai pemberontakan dan gangguan di wilayah kekaisaran. Pada akhir 180-an, masalah persediaan gandum di Roma memicu ketidakpuasan masyarakat. Cleander kemudian kehilangan dukungan dan akhirnya dihukum mati.

Setelah kejatuhan Cleander, bentuk representasi kekaisaran Commodus semakin berbeda. Ia menghubungkan dirinya dengan Hercules dan menggunakan representasi Hercules Romanus Augustus. Nama bulan, unit militer, serta berbagai institusi dikaitkan dengan namanya. Ia juga tampil dalam pertunjukan gladiator dan direpresentasikan melalui patung, koin, dan pertunjukan publik.

Hekster menjelaskan bahwa perubahan tersebut juga tampak dalam gelar dan representasi resmi Commodus. Setelah beberapa tahap, ia menggunakan gelar Pius Felix dan kemudian mengidentifikasikan dirinya dengan Hercules. Pada tahun 190, koin mulai menampilkan Hercules Commodianus, dan sejak Desember tahun 191 digunakan pula gelar Hercules Romanus Augustus.

Representasi tersebut semakin kuat ketika Roma sendiri pada 192 diberi nama Colonia Antoniniana Commodiana. Dalam uraian Hekster, perubahan nama dan simbol tersebut berkaitan dengan cara Commodus menampilkan dirinya sebagai pusat keberlangsungan dan perlindungan kekaisaran.

Pemerintahan Commodus berakhir pada 31 Desember tahun 192. Setelah pembunuhannya, Publius Helvius Pertinax menjadi kaisar, tetapi pemerintahannya hanya berlangsung kurang dari tiga bulan. Ia kemudian dibunuh oleh anggota pasukannya sendiri. Setelah itu terjadi perebutan kekuasaan antara beberapa kandidat, termasuk Didius Julianus, Pescennius Niger, dan Septimius Severus.

Septimius Severus akhirnya berhasil menjadi kaisar. Untuk memperkuat dinastinya, ia kemudian menghubungkan dirinya secara genealogis dengan Marcus Aurelius. Pada 195, Severus menyatakan dirinya sebagai anak Marcus dan saudara Commodus, sementara Commodus didewakan dan namanya dipulihkan.

Dengan demikian, warisan Marcus Aurelius tidak berhenti pada pemerintahannya sendiri. Keluarga, nama, dan kedudukannya kemudian digunakan kembali dalam pembentukan legitimasi dinasti Severus. Hekster mencatat bahwa Severus secara eksplisit menampilkan dirinya sebagai saudara divus Commodus dan menghubungkan garis keturunannya dengan keluarga Antoninus.

Keempat tulisan dalam “Marcus the Emperor” menggambarkan pemerintahan Marcus Aurelius melalui empat ranah utama. Werner Eck menunjukkan struktur administratif Kekaisaran Romawi yang bersifat berlapis dan tidak seragam, dengan kota-kota sebagai unit pemerintahan lokal serta gubernur dan pejabat kekaisaran sebagai penghubung antara wilayah provinsi dan pusat kekuasaan.

Mark J. Edwards menggambarkan kehidupan keagamaan yang terdiri atas tradisi agama Romawi, kultus-kultus lokal dan etnis, agama filsafat, Mithraisme, Yahudi, serta perkembangan Kekristenan. Periode tersebut memperlihatkan keberlanjutan berbagai tradisi sekaligus meningkatnya keberadaan dan perdebatan mengenai komunitas Kristen.

Anthony R. Birley menguraikan pemerintahan Marcus dalam konteks perang yang berlangsung hampir sepanjang masa kekuasaannya, mulai dari Perang Parthia, Perang Marcomanni, berbagai pemberontakan, hingga pemberontakan Avidius Cassius dan perang kedua di Danube.

Sementara itu, Olivier Hekster menempatkan kematian Marcus sebagai titik peralihan menuju pemerintahan Commodus dan kemudian pergolakan politik pada akhir abad kedua. Pembahasannya memperlihatkan perubahan dalam hubungan antara kaisar, senat, militer, dan representasi kekaisaran, hingga akhirnya Septimius Severus menggunakan hubungan simbolis dan genealogis dengan Marcus Aurelius untuk membangun legitimasi dinastinya.

kontak kami

inisiatifonline@outlook.co.id

+6288906160520

Dibangun pada 2025