Pezeshkian di PBB: Iran Tak Akan Tunduk pada Tekanan; Singgung Tindakan Israel di Gaza Sebagai Genosida

"Israel menargetkan setiap lingkungan di kota mana pun, di provinsi mana pun, melakukan pembunuhan seperti seorang teroris sejati di Gaza," ujar Pezeshkian. Ia menyebut puluhan ribu warga sipil Gaza telah terbunuh dan ratusan ribu lainnya mengungsi. Pezeshkian menyebut kondisi tersebut sebagai genosida.

BERITA-POLITIK INTERNASIONAL

Edi.

9/25/20264 min read

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan tunduk pada tekanan maupun ancaman dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia menyatakan Teheran terbuka terhadap dialog dan diplomasi, tetapi menolak negosiasi yang berlangsung di bawah tekanan kekuatan.

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian dalam Debat Umum Sidang Umum PBB ke-81 di Markas Besar PBB, New York. Dalam pidatonya, Pezeshkian menyebut Iran sebagai korban serangan dan menolak tuduhan bahwa negaranya merupakan sumber terorisme maupun ketidakstabilan kawasan.

"Saya datang dari Iran di mana, pada kenyataannya, mereka membom sebuah sekolah," kata Pezeshkian. Ia menuduh Amerika Serikat dan Israel menggunakan persenjataan dalam serangan terhadap fasilitas yang menurutnya menjadi tempat anak-anak beraktivitas.

Pezeshkian juga mengatakan Iran selama ini hanya mempertahankan diri dari serangan. Menurut dia, Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dengan teknologi serta sistem persenjataan modern, sementara Iran merespons serangan tersebut.

Ia mengeklaim serangan juga menyasar universitas, fasilitas kesehatan, sekolah, rumah sakit dan infrastruktur. Menurut Pezeshkian, tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.

Dalam pidatonya, Pezeshkian turut menyinggung pembunuhan Ismail Haniyeh di Iran. Ia mengatakan pemimpin Hamas tersebut dibunuh pada saat dirinya mengambil alih tanggung jawab sebagai presiden Iran. Ia kemudian mengaitkan konflik tersebut dengan situasi di Gaza.

"Israel menargetkan setiap lingkungan di kota mana pun, di provinsi mana pun, melakukan pembunuhan seperti seorang teroris sejati di Gaza," ujar Pezeshkian. Ia menyebut puluhan ribu warga sipil Gaza telah terbunuh dan ratusan ribu lainnya mengungsi. Pezeshkian menyebut kondisi tersebut sebagai genosida.

Pezeshkian kemudian mempertanyakan tuduhan terhadap Iran sebagai sumber ketidakstabilan. Ia mengatakan Iran hanya ingin hidup secara independen dan menilai negara-negara yang melakukan serangan justru berperan dalam menciptakan ketidakstabilan.

Menurut Pezeshkian, Iran membutuhkan kekuatan pertahanan bukan untuk melakukan agresi, melainkan untuk mencegah negaranya menjadi sasaran serangan. Ia mengatakan Iran tidak mencari kekuatan untuk melakukan hegemoni atau mengancam negara lain.

"Kami tidak mencari kekuatan untuk menyerang atau melakukan agresi. Kami mencari energi untuk kemajuan, bukan untuk mengancam masyarakat dengan senjata," katanya.

Program Nuklir Iran

Isu nuklir menjadi bagian lain dari pidato Pezeshkian. Ia mengatakan Iran mempertahankan hak atas teknologi nuklir untuk tujuan damai dan menolak pembatasan terhadap penggunaan teknologi tersebut.

Menurut Pezeshkian, teknologi nuklir dibutuhkan Iran untuk berbagai kepentingan, mulai dari pengobatan, sektor pertanian, industri hingga penyediaan energi listrik. "Iran tidak menerima teknologi nuklir hanya menjadi milik eksklusif segelintir pihak," katanya.

Namun, Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan senjata nuklir. "Tidak ada senjata nuklir dan tidak ada pembatasan terhadap teknologi nuklir damai," ujarnya.

Dalam pidatonya, ia kemudian mengkritik apa yang disebutnya sebagai standar ganda dalam penerapan aturan internasional. Ia membandingkan pemeriksaan nuklir terhadap Iran dengan posisi Israel yang, menurutnya, memiliki senjata nuklir tetapi tidak menjadi objek pemeriksaan serupa.

Pezeshkian mengatakan Iran tidak meminta perlakuan khusus, melainkan hak yang sama bagi semua negara. "Jika kita menginginkan perdamaian dan stabilitas sejati, kita harus menerapkan satu standar untuk semua," katanya.

Serukan Penyelesaian Konflik Di Kawasan

Pezeshkian juga membahas keamanan kawasan Timur Tengah. Ia mengatakan Iran tidak memandang negara-negara tetangganya sebagai pesaing keamanan.

Menurutnya, konflik di satu negara dapat menyebar ke negara-negara di sekitarnya. Karena itu, Iran menginginkan negara-negara tetangga yang kuat dan kawasan yang aman, termasuk di sekitar Selat Hormuz.

Ia menolak perluasan perang sebagai cara untuk menciptakan keamanan. Menurut Pezeshkian, masalah-masalah kawasan seharusnya diselesaikan oleh negara-negara di kawasan tanpa menjadikan negara-negara lain sebagai alat untuk mengancam tetangganya.

Mengenai Palestina, Pezeshkian mengatakan persoalan tersebut tetap menjadi salah satu persoalan utama komunitas internasional. Ia menyebut Gaza sebagai simbol kegagalan mekanisme internasional dalam mencegah penderitaan warga sipil.

"Perdamaian yang langgeng di Asia Barat tidak mungkin terjadi tanpa keadilan bagi Palestina," kata Pezeshkian. Ia menambahkan bahwa selama pendudukan, agresi dan ketidakadilan masih berlangsung, perlawanan akan terus muncul.

Ia juga mengatakan persoalan regional harus diselesaikan oleh negara-negara di kawasan. Menurutnya, hubungan dengan kekuatan asing tidak boleh digunakan sebagai instrumen untuk mengancam negara-negara tetangga.

Iran Siap Berunding, Tetapi Menolak Tekanan

Dalam bagian akhir pidatonya, Pezeshkian kembali menegaskan bahwa Iran tidak takut menghadapi perang, tetapi tetap membuka pintu negosiasi. "Iran tidak pernah menjadi agresor, tidak pernah memulai perang dan selalu menunjukkan komitmennya terhadap meja perundingan," katanya.

Ia juga mengkritik penggunaan kekuatan militer dalam hubungan internasional. Menurut Pezeshkian, dunia yang hanya mengandalkan kekuatan dan intimidasi tidak akan menciptakan keamanan.

"Kita tidak boleh membangun dunia di mana kekuatan militer menggantikan legitimasi, terorisme menggantikan politik dan negosiasi, serta perang menggantikan dialog dan diplomasi," ujarnya.

Pezeshkian kemudian menyatakan Iran mengulurkan tangan kepada dunia untuk bekerja sama. Ia mengatakan kerja sama diperlukan karena tidak ada negara di kawasan yang dapat memperoleh keamanan sendirian.

"Kami siap untuk dialog, diplomasi dan negosiasi tanpa menerima bahasa kekuatan," kata Pezeshkian pada bagian akhir pidatonya.

Pidato Pezeshkian berlangsung dalam rangka Debat Umum Sidang Umum PBB ke-81 di New York. Sidang Umum PBB ke-81 dibuka pada 8 September 2026, sedangkan Debat Umum berlangsung pada 22–26 September dan dilanjutkan pada 28 September 2026.

Debat Umum merupakan agenda tahunan ketika kepala negara, kepala pemerintahan, dan perwakilan tingkat tinggi negara-negara anggota menyampaikan pandangan serta prioritas mereka mengenai berbagai persoalan global. Untuk sidang ke-81, tema yang diangkat adalah "Restoring trust, managing transformation: A United Nations that delivers for all", atau memulihkan kepercayaan dan mengelola transformasi menuju PBB yang memberikan hasil bagi semua.

Agenda tersebut berlangsung dalam rangkaian High-Level Week di Markas Besar PBB, New York. Selain Debat Umum, rangkaian agenda tingkat tinggi tahun ini mencakup antara lain pertemuan mengenai hak atas pembangunan, perubahan iklim dan transisi yang adil, ancaman kenaikan permukaan laut, pencegahan serta kesiapsiagaan pandemi, dan agenda terkait Deklarasi Durban.

Pidato tersebut menjadi forum bagi Iran untuk menyampaikan posisi bahwa kekuatan pertahanan diperlukan untuk mencegah ancaman, sementara dialog dan diplomasi tetap menjadi jalan yang ditawarkan Teheran, dengan syarat Iran tidak dipaksa bernegosiasi melalui tekanan atau ancaman.

kontak kami

inisiatifonline@outlook.co.id

+6288906160520

Dibangun pada 2025