Voltaire dalam Candide: Kritik terhadap Optimisme Buta, Kekuasaan, dan Ketidakadilan Manusia
“let us cultivate our garden” / “Mari kita mengolah kebun kita”
SUDUT PANDANG - POV
Arka C.G.
11/5/20268 min read


Candide (1759) merupakan salah satu karya filosofis paling terkenal dari Voltaire. Melalui novel satir ini, Voltaire menyampaikan kritik terhadap cara manusia memahami kehidupan, terutama kecenderungan untuk menganggap bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia merupakan bagian dari tatanan terbaik yang sudah ditentukan.
Gagasan tersebut terutama diarahkan kepada optimisme filosofis yang diasosiasikan dengan pemikiran Gottfried Wilhelm Leibniz, khususnya doktrin the best of all possible worlds (dunia terbaik dari segala dunia yang mungkin). Dalam pandangan ini, dunia yang diciptakan Tuhan dianggap sebagai dunia terbaik yang mungkin diwujudkan, meskipun di dalamnya terdapat penderitaan dan kejahatan.
Voltaire tidak sekadar menolak optimisme sebagai sikap mental. Ia mempertanyakan optimisme yang digunakan untuk membenarkan penderitaan, ketidakadilan, peperangan, dan penyalahgunaan kekuasaan. Baginya, keyakinan bahwa segala sesuatu pasti berlangsung sebagaimana mestinya dapat berubah menjadi pembenaran terhadap kenyataan yang seharusnya dikritik dan diperbaiki.
Melalui perjalanan Candide, Voltaire memperlihatkan bagaimana suatu teori filosofis dapat terlihat meyakinkan ketika hanya dibicarakan dalam ruang pemikiran, tetapi kehilangan relevansinya ketika berhadapan dengan kenyataan kehidupan manusia.
Pangloss dan Candide: Ketika Optimisme Menjadi Pembenaran atas Penderitaan
Tokoh Pangloss merupakan representasi paling jelas dari pemikiran yang hendak dikritik Voltaire. Ia adalah guru filsafat Candide yang mengajarkan bahwa segala sesuatu di dunia berlangsung untuk tujuan terbaik. Pangloss bahkan memiliki istilah yang dibuat secara satiris oleh Voltaire, yaitu metaphysico-theologo-cosmolonigology, seolah-olah hendak menggambarkan filsafat yang dipenuhi istilah rumit tetapi tidak mampu menjawab persoalan nyata.
Dalam Bab I, Pangloss menjelaskan keyakinannya: “It is demonstrable,” said he, “that things cannot be otherwise than as they are; for as all things have been created for some end, they must necessarily be created for the best end.”
Pernyataan tersebut menunjukkan cara berpikir Pangloss yang menganggap seluruh kejadian memiliki tujuan terbaik. Ia bahkan menggunakan contoh-contoh sederhana untuk membenarkan keadaan yang sebenarnya hanya menguntungkan kelompok tertentu. Hidung dianggap diciptakan untuk kacamata, kaki untuk kaus kaki, sedangkan batu dianggap diciptakan agar dapat digunakan membangun istana.
Logika tersebut menjadi menarik ketika dikaitkan dengan kehidupan Baron Thunder-ten-tronckh. Pangloss menganggap istana Baron sebagai istana terbaik karena Baron merupakan bangsawan terbesar di wilayahnya. Dengan demikian, keadaan sosial yang menguntungkan kaum bangsawan seolah-olah merupakan bagian dari keteraturan alam semesta.
Voltaire menggunakan karakter Pangloss untuk memperlihatkan kelemahan penalaran yang memaksakan kesimpulan filosofis terhadap kenyataan. Pangloss tidak memulai pemikirannya dari pengamatan objektif atas kehidupan, tetapi justru menggunakan teori yang sudah diyakininya untuk membenarkan segala sesuatu yang terjadi.
Kritik tersebut semakin kuat ketika Candide mengalami berbagai penderitaan. Ia diusir dari istana, direkrut secara paksa menjadi tentara Bulgaria, menyaksikan peperangan, mengalami hukuman fisik, dan kemudian menghadapi bencana gempa bumi di Lisbon. Namun, semua pengalaman tersebut pada awalnya tidak membuatnya meninggalkan ajaran Pangloss.
Candide bahkan mengatakan: “I conceive there can be no effect without a cause; everything is necessarily concatenated and arranged for the best.”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Candide masih memandang penderitaan sebagai bagian dari rangkaian kejadian yang tidak mungkin berlangsung secara berbeda. Ia menjadi gambaran manusia yang menerima doktrin tanpa mengujinya secara kritis melalui pengalaman hidup.
Di sinilah letak ironi yang dibangun Voltaire. Candide merupakan tokoh yang pada dasarnya baik, jujur, dan tidak memiliki kecenderungan untuk berbuat jahat. Akan tetapi, kesederhanaan berpikirnya membuat ia mudah menerima ajaran yang tidak sesuai dengan kenyataan. Voltaire seakan-akan hendak memperlihatkan bahwa kepolosan tanpa kemampuan berpikir kritis dapat membuat seseorang menjadi korban dari gagasan yang keliru.
Martin dan James: Kritik terhadap Kejahatan dan Penderitaan Manusia
Jika Pangloss mewakili optimisme filosofis, Martin merupakan tokoh yang mengambil posisi berlawanan. Ia adalah seorang filsuf yang cenderung pesimistis karena pengalaman hidupnya memperlihatkan bahwa dunia dipenuhi kekerasan, penipuan, keserakahan, dan ketidakadilan.
Dalam Bab XIX hingga Bab XXI, Martin menjadi teman perjalanan Candide. Keduanya sering berdiskusi mengenai kehidupan manusia dan keadaan dunia. Martin tidak percaya bahwa segala sesuatu berjalan menuju kebaikan. Baginya, pengalaman empiris justru memperlihatkan kecenderungan manusia untuk saling merugikan. Dalam salah satu percakapan, Martin menyampaikan: “To make us mad,” kata Martin.
Kalimat pendek tersebut merupakan jawaban Martin ketika Candide bertanya untuk tujuan apa dunia diciptakan. Jawaban ini memperlihatkan pesimisme Martin yang sangat tajam. Ia melihat kehidupan bukan sebagai tatanan harmonis, melainkan sebagai kenyataan yang sering kali tidak masuk akal dan menyakitkan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa Voltaire tidak serta-merta menjadikan Martin sebagai representasi kebenaran mutlak. Martin juga memiliki keterbatasan. Jika Pangloss terlalu optimistis, Martin cenderung menggeneralisasi keburukan dunia berdasarkan pengalaman buruk yang dialaminya.
Melalui pertentangan kedua tokoh tersebut, Voltaire memperlihatkan bahwa optimisme yang tidak kritis maupun pesimisme yang berlebihan sama-sama tidak cukup untuk menjelaskan kehidupan manusia.
Karakter lain yang tidak kalah penting adalah James (Jacques), seorang Anabaptis yang ditemui Candide dan Pangloss setelah keduanya mengalami penderitaan. James memiliki kepedulian terhadap manusia dan bersedia membantu orang-orang yang sedang mengalami kesulitan, termasuk Pangloss yang menderita penyakit berat.
Berbeda dengan Pangloss, James tidak menggunakan teori filosofis untuk membenarkan penderitaan. Ia justru mempertanyakan mengapa manusia yang seharusnya hidup berdampingan malah saling menghancurkan.
Dalam Bab IV, James mengatakan: “Men,” said he “must, in some things, have deviated from their original innocence; for they were not born wolves, and yet they worry one another like those beasts of prey.”
Pernyataan tersebut menunjukkan kritik terhadap perilaku manusia yang menjadikan kekerasan sebagai bagian dari kehidupan sosial. James mempertanyakan bagaimana manusia yang tidak dilahirkan sebagai binatang buas justru dapat memperlakukan sesamanya seperti predator.
Melalui karakter James, Voltaire memperlihatkan bahwa persoalan kehidupan manusia tidak cukup dijawab dengan perdebatan mengenai takdir dan keteraturan alam semesta. Ada persoalan moral yang lebih konkret, yaitu mengapa manusia melakukan kekerasan terhadap manusia lainnya, padahal mereka memiliki kemampuan untuk hidup secara damai.
Tokoh James juga menjadi contoh bahwa kebaikan tidak harus diwujudkan melalui pernyataan filosofis yang rumit. Kepedulian, bantuan nyata, dan tindakan kemanusiaan justru menjadi bentuk kebaikan yang dapat dirasakan secara langsung.
Sayangnya, James kemudian meninggal dalam peristiwa kecelakaan kapal. Peristiwa tersebut kembali memperlihatkan ironi kehidupan: orang yang memiliki kepedulian terhadap sesama justru menjadi korban, sementara orang-orang yang tidak memiliki kepedulian dapat terus menikmati kehidupannya.
Kritik terhadap Kekuasaan, Agama, dan Kemunafikan Sosial
Pemikiran Voltaire dalam Candide tidak hanya berkaitan dengan perdebatan mengenai optimisme filosofis. Novel ini juga memuat kritik terhadap kekuasaan politik, institusi keagamaan, dan struktur sosial yang memungkinkan ketidakadilan berlangsung.
Salah satu contohnya terdapat dalam kisah peperangan antara bangsa Bulgaria dan Abar. Voltaire menggambarkan peperangan melalui ironi yang sangat tajam. Di satu sisi, perang sering dibungkus dengan bahasa kepahlawanan, kehormatan, dan kejayaan negara. Namun, di sisi lain, masyarakat justru menjadi korban pembunuhan, penghancuran tempat tinggal, dan kekerasan.
Candide yang sebelumnya hidup dalam lingkungan istana dan mendengarkan ajaran Pangloss kemudian menyaksikan sendiri bagaimana peperangan memperlihatkan sisi paling kejam dari manusia.
Voltaire juga mengkritik lembaga keagamaan melalui peristiwa gempa bumi Lisbon. Dalam cerita tersebut, masyarakat justru menyelenggarakan auto-da-fé, yaitu upacara penghukuman terhadap orang-orang yang dianggap menyimpang dari ajaran keagamaan, dengan harapan dapat mencegah terjadinya gempa bumi berikutnya.
Peristiwa tersebut merupakan satir terhadap praktik keagamaan yang kehilangan rasionalitas dan kemanusiaannya. Alih-alih mencari penjelasan mengenai bencana atau membantu para korban, otoritas justru melakukan penghukuman dengan menghubungkan bencana alam dengan kesalahan manusia.
Melalui kisah tersebut, Voltaire mengkritik fanatisme dan penyalahgunaan otoritas keagamaan. Ia memperlihatkan bagaimana institusi yang seharusnya membawa manusia kepada kebaikan dapat berubah menjadi alat penindasan ketika tidak disertai nalar kritis dan kepedulian kemanusiaan.
Kritik terhadap ketidakadilan sosial juga terlihat ketika Candide dan Cacambo bertemu seorang budak kulit hitam di Suriname. Budak tersebut kehilangan satu tangan dan satu kaki akibat kekejaman sistem perbudakan dalam industri gula. Ia menjelaskan hubungan antara penderitaannya dan konsumsi masyarakat Eropa: “It is at this expense that you eat sugar in Europe.”
Kalimat tersebut memiliki makna yang sangat kuat. Voltaire memperlihatkan bahwa kemakmuran suatu masyarakat dapat dibangun di atas penderitaan masyarakat lainnya. Produk yang dikonsumsi secara biasa oleh masyarakat Eropa ternyata memiliki hubungan dengan eksploitasi dan kekerasan terhadap manusia di wilayah koloni.
Peristiwa itu menjadi salah satu titik perubahan penting bagi Candide. Ia akhirnya mulai meragukan ajaran Pangloss secara serius. Candide mengatakan: “Alas!” replied Candide, “it is the obstinacy of maintaining that everything is best when it is worst.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Candide mulai memahami persoalan mendasar dalam optimisme Pangloss. Mempertahankan keyakinan bahwa segala sesuatu adalah yang terbaik, bahkan ketika kenyataan menunjukkan penderitaan yang nyata, bukanlah sikap bijaksana. Sebaliknya, hal tersebut merupakan bentuk penyangkalan terhadap kenyataan.
Melalui peristiwa ini, Voltaire menghubungkan persoalan filosofis dengan persoalan sosial dan ekonomi. Penderitaan manusia bukan sekadar persoalan abstrak mengenai takdir, tetapi dapat muncul akibat sistem sosial, keserakahan ekonomi, kolonialisme, dan tindakan manusia lainnya.
El Dorado: Gambaran Masyarakat Ideal dan Kritik terhadap Keserakahan
Salah satu bagian paling menarik dalam Candide adalah perjalanan Candide dan Cacambo ke El Dorado. Tempat tersebut digambarkan sebagai negeri yang memiliki kemakmuran luar biasa, masyarakat yang hidup damai, serta tidak mengenal konflik keagamaan dan perebutan kekuasaan sebagaimana yang dialami masyarakat Eropa.
Di El Dorado, emas dan batu mulia tidak dipandang sebagai sesuatu yang harus diperebutkan. Bahkan, benda-benda yang dianggap sangat berharga di Eropa justru tidak memiliki nilai istimewa bagi penduduk El Dorado.
Gambaran tersebut menjadi kritik Voltaire terhadap keserakahan manusia. Ia memperlihatkan bahwa sumber penderitaan tidak selalu berasal dari keterbatasan sumber daya, tetapi juga dari cara manusia memandang kekayaan, kekuasaan, dan kepentingan pribadi.
Namun, Candide justru memilih meninggalkan El Dorado. Ia ingin membawa kekayaan dari negeri tersebut untuk mendapatkan kembali Cunegonde dan memperoleh kedudukan sosial yang lebih tinggi.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa Candide belum sepenuhnya terbebas dari cara berpikir masyarakat yang selama ini dikritik Voltaire. Bahkan ketika menemukan masyarakat yang relatif ideal, ia masih membawa ambisi dan keinginan yang dibentuk oleh lingkungan sebelumnya.
El Dorado dengan demikian bukan hanya gambaran tentang masyarakat ideal, tetapi juga perangkat satir untuk memperlihatkan betapa sulitnya manusia melepaskan diri dari keserakahan dan ambisi.
Mengolah Kebun: Jawaban Voltaire atas Persoalan Kehidupan
Pada bagian akhir novel, Voltaire menghadirkan perubahan penting dalam pemikiran Candide. Setelah melalui berbagai penderitaan, perjalanan, dan perdebatan filosofis, Candide akhirnya bertemu kembali dengan Pangloss, Martin, Cunegonde, dan beberapa tokoh lainnya.
Mereka kemudian hidup bersama dalam sebuah lingkungan sederhana. Akan tetapi, kehidupan mereka tidak sepenuhnya bahagia. Mereka masih menghadapi persoalan, ketidakpuasan, dan kesulitan masing-masing.
Pangloss tetap mempertahankan keyakinannya bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan bagian dari rangkaian sebab-akibat yang terbaik. Martin tetap memiliki pandangan pesimistis terhadap kehidupan. Sementara Candide mulai memahami bahwa perdebatan mengenai apakah dunia ini baik atau buruk tidak selalu memberikan jalan keluar bagi persoalan manusia.
Dalam percakapan terakhir, Candide menyampaikan kalimat yang menjadi salah satu bagian paling terkenal dari karya Voltaire: “Excellently observed,” answered Candide; “but let us cultivate our garden.”
Kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk mengalihkan perhatian dari perdebatan filosofis yang tidak berkesudahan menuju tindakan nyata yang dapat memperbaiki kehidupan. Mengolah kebun bukan sekadar pekerjaan bercocok tanam. Secara filosofis, tindakan tersebut melambangkan pentingnya kerja, tanggung jawab, produktivitas, dan kemampuan manusia untuk mengelola kehidupannya sendiri.
Martin bahkan memberikan penegasan: “Work then without disputing,” said Martin; “it is the only way to render life supportable.” Pernyataan Martin tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan tidak akan menjadi lebih baik hanya dengan memperdebatkan apakah dunia merupakan tempat terbaik atau terburuk. Manusia perlu melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan yang berada dalam jangkauan kemampuannya.
Menariknya, Pangloss pun akhirnya menerima gagasan untuk bekerja mengolah kebun. Ia bahkan menghubungkannya dengan kisah manusia di Taman Eden yang ditugaskan untuk mengolah tanah.
Dengan demikian, akhir cerita tidak sekadar menggambarkan kemenangan Candide atas Pangloss atau Martin. Voltaire justru mempertemukan ketiga karakter tersebut dalam sebuah kesimpulan praktis: manusia perlu berhenti mencari pembenaran atas segala penderitaan dan mulai melakukan pekerjaan yang dapat membuat kehidupannya lebih baik.
Melalui Candide, Voltaire memperlihatkan bahwa salah satu persoalan terbesar manusia adalah kecenderungan untuk menerima kenyataan tanpa mempertanyakannya secara kritis. Optimisme yang berlebihan dapat membuat manusia menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang wajar, sementara pesimisme yang berlebihan dapat membuat manusia kehilangan harapan untuk memperbaiki keadaan.
Pangloss menjadi representasi optimisme filosofis yang mempertahankan keyakinan bahwa segala sesuatu berlangsung demi kebaikan. Martin menjadi representasi pesimisme yang melihat dunia melalui pengalaman penderitaan dan kejahatan. James memperlihatkan pentingnya kepedulian kemanusiaan, sedangkan Candide menggambarkan perjalanan manusia dari kepolosan menuju kesadaran kritis.
Perjalanan karakter-karakter tersebut memperlihatkan bahwa Voltaire tidak menawarkan jawaban filosofis yang sederhana mengenai mengapa kejahatan dan penderitaan harus ada di dunia. Sebaliknya, ia mengajak pembaca mempertanyakan berbagai keyakinan yang digunakan untuk membenarkan ketidakadilan.
Pemikiran tersebut sejalan dengan semangat Zaman Pencerahan (Age of Enlightenment), yaitu penekanan terhadap penggunaan akal, kebebasan berpikir, kritik terhadap otoritas, serta penolakan terhadap dogmatisme.
Pada akhirnya, pesan Voltaire dalam Candide bukanlah bahwa manusia harus selalu berpikir positif atau menerima segala sesuatu dengan lapang dada. Pesan yang lebih mendasar adalah bahwa manusia tidak boleh menjadikan keyakinan filosofis, agama, maupun kekuasaan sebagai alasan untuk mengabaikan penderitaan sesamanya.
Manusia mungkin tidak memiliki kendali atas seluruh peristiwa yang terjadi di dunia. Namun, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menentukan bagaimana ia bertindak menghadapi kenyataan tersebut.
Karena itu, kalimat “let us cultivate our garden” dapat dibaca sebagai ajakan untuk meninggalkan pembenaran yang tidak produktif, menggunakan akal secara kritis, bekerja, dan memperbaiki kehidupan melalui tindakan konkret. Bukan dengan menganggap dunia sudah sempurna, melainkan dengan menyadari bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki.
